...Singkong jadi Andalan Indonesia untuk Pangan, Pakan dan Energi...

Rabu, 13 November 2013

Singkong Gajah Dari Samarinda Masuk Pentas Internasional

 

IMG-20130509-00196

Singkong Gajah Dari Samarinda Masuk Pentas Internasional

Rencana bisnis dari Singkong Gajah (Elephant Casava) yang ditemukan oleh Professor  Ristono di Samarinda kini bersaing di pentas international dalam ajang Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition yang diadakan oleh Singapore Management University. Kompetisi ini sendiri bertujuan mencari ide – ide baru yang dapat menggugah dunia.

Dan tidak tanggung – tanggung, saat ini dalam kompetisi, ide Singkong Gajah masuk 6 besar dari 16 ide yang lolos ke semifinal. Dan perlu diketahui, untuk masuk tahap semifinal ini grup Singkong Gajah harus menyisihkan ratusan ide – ide bisnis lainnya yang berasal dari 75 institusi dan universitas di seluruh dunia. Namun masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui sebelum akhirnya dipertemukan oleh Angel Investor dengan perusahaan agricultur raksasa “Wilmar” selaku sponsor tunggal kompetisi yang kemungkinan besar akan memberikan investasi penuh bagi pemenang kompetisi.
Adalah Arbiyan Christianto dan Aryo Andityo, dua mahasiswa dari Universitas Gajah Mada yang meminjam produk Singkong Gajah untuk diperkenalkan kepada komunitas internasional.

Dalam kompetisi, tim memperkenalkan Singkong Gajah dengan pendekatan korporasi. Dijelaskan dalam rencana bisnis bahwa Singkong Gajah adalah tanaman multyfungsi yang mampu mencapai break event point (titik impas) dalam jangka waktu sangat singkat. Perusahaan yang dibentuk juga akan berdasarkan konsep social corporation dan eco friendly business dimana realisasinya akan memberdayakan petani tradisional dan masyarakat desa dalam memproses Singkong Gajah menjadi produk – produk seperti tepung mocaf, biobriket, flavonoid, dan baglogs tanpa menyisakan limbah sama sekali.

Kedua mahasiswa ini menganggap bahwa Singkong Gajah memang superior dari segi apapun. Namun sangat disayangkan bahwa perhatian pemerintah dirasa masih sangat minim terhadap Singkong Gajah yang dapat memajukan kualitas hidup masyarakat itu. Oleh karena itu, perlu perjuangan ekstra keras untuk mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak.

Prof Ristono, sekaligus pembina dalam kompetisi ini, kepada tribunkaltim.co.id Senin (19/8/2013) lebih memperinci terkait “supernya” produk temuannya ini. Dari 1 hektar sendiri, dapat dihasilkan sekitar 100 ton Singkong Gajah. Sangat jauh dari singkong tradisional yang hanya 5 – 10 ton perhektarnya. Memang selama ini, produksi singkong dapat ditingkatkan dengan bahan kimia namun sama saja akan menambah permasalahan dunia yang baru. Singkong Gajah menurut Ristiono dapat menjawab sedikitnya 4 masalah terbesar yang di hadapi dunia saat ini. Mulai dari masalah pangan, energi, kesehatan dan inilah yang selalu ditekannya kepada dua mahasiswa yang sedang berkompetisi.

“Produk apa yang ada nilai ekonomisnya, yang bisa dilaksanakan secara menyeluruh, secara orang banyak dalam waktu singkat dengan tekhnologi yang ada dulu. Itu yang perlu dipikirkan,” kata Ristono.

Untuk pangan, Singkong Gajah diolah sedemikian rupa menjadi tepung mocaf yang sangat layak untuk menggantikan tepung gandum yang ada selama ini. Untuk energi, tepung kanji dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan briket batu bara (biobriket). Dan untuk kesehatan, kandungan flanovoid di Singkong Gajah juga dapat menyembuhkan penyakit kanker. Bahkan sisa dari proses produksi ini dapat digunakan sebagai media tanam (baglogs) sehingga  nyaris tanpa limbah.

Dan rencananya, Ristiono sendiri juga akan mengikuti langsung acara final pada 24 Agustus mendatang di Singapura.

“Saya ingin melihat seperti apa produk yang di tawarkan 6 finalis lainnya,” kata Ristiono.
 
Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Kaltim
Sumber Foto : http://singkonggajah.wordpress.com/
 


Bangun Industri Pengolahan Singkong Gajah di PPU

Bangun Industri Pengolahan Singkong Gajah di PPU

Bangun Industri Pengolahan Singkong Gajah di PPU


Singkong Gajah, perlahan menjadi tanaman andalan petani di Kaltim. Sayangnya, sampai saat ini para petani Singkong Gajah kerap mengaku kesulitan menjual hasil tanaman mereka. Hal ini diakui pula oleh Kepala Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Ibrahim. Menurut Ibrahim, saat ini baru tersedia pabrik pengolahan Singkong Gajah dalam skala kecil di Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU).


"Yang skala kecil ada, dengan kapasitas baru puluhan kilogram (kg) saja. Itu di PPU. Kalau dalam jumlah besar belum," kata Ibrahim.

Namun, 2014 mendatang, diperkirakan akan berdiri pabrik pengolahan Singkong Gajah menjadi chip dalam kapasitas besar, di Kabupaten PPU.

"PT Sasamba akan mendirikan industri pengolahannnya menjadi chip (potongan-potongan kecil). Sekarang masih mencari lokasinya di PPU," ujar Ibrahim.

Direncanakan, industri pengolahan Singkong Gajah di PPU nanti berkapasitas sekitar 5.000 ton perhari. "Rencananya, mesin yang di Jawa Barat itu akan dipindahkan ke PPU. Investor dari Cina meminta 5.000 ton sehari. Tapi kemungkinan kapasitas pabrik lebih dari itu, karena harus produksi juga untuk bioetanol," jelas Ibrahim.


Sumber : http://www.tribunnews.com/regional/2013/10/27/bangun-industri-pengolahan-singkong-gajah-di-ppu
Sumber Foto : http://jualsingkonggajah.blogspot.com/

Uji Coba Tanam Singkong Gajah Hasilkan 42 Kg


Uji Coba Tanam Singkong Gajah Hasilkan 42 Kg
Uji Coba Tanam Singkong Gajah Hasilkan 42 Kg
Satu tahun yang lalu saya menanam singkong gajah di samping rumah , umur satu tahun setelah saya cabut beratnya mencapai 42 kg. kemudian saya ceritakan kepada kawan saya mengenai pengalaman menanam singkong gajah ini. dan kawan saya balik bertanya kepada saya :

Apa yang kamu lakukan untuk merawat singkong gajah supaya dalam satu tahun menghasilkan 42 kg singkong ??

Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dalam saya merawat tanaman singkong ini , Singkong Gajah ini Selain karena memang jenis singkong unggu.
saya hanya memberi pupuk dasar 3 kg kompos dan saya buatkan guludan sebelum saya tancapkan stek bibit singkong gajah , setelah umur satu bulan saya tambahkan lagi pupuk kompos 5 kg kemudian saya tutup dengan jerami padi. umur 1 , 3 dan 5 bulan saya beri pupuk UREA & NPK. Setelah itu sampai panen tiba saya hanya membersihkan gulma di sekitar tanaman agar tidak tumbuh.

Karena dulu saya tidak sempat mendokumentasikan , Baiklah kali ini saya akan mencoba menanam kembali dan saya dokumentasikan mulai dari awal penanaman sampai panen untuk saya posting disini :
Uji coba kembali mulai dari awal tanam akan saya gunakan satu pohon tanaman yang sama :

Singkong Gajah
1. Umur 10 Hari , Yang sebelumnya sebelum di tanam sudah saya kasih pupuk dasar kotoran ayam kering campur kulit padi.


2. Umur 18 Hari , tinggi tunas sudah mencapai 12 cm

Singkong Gajah
3. Umur 1 Bulan , Saya tambahkan lagi pupuk kompos 2 kg dan mulsa organik

Singkong Gajah
4. Umur 3 Bulan , Tinggi pohon mencapai 170 cm dan midle batang 2,5 cm

Singkong Gajah
5. Umur 8 Bulan , Midle batang mencapai 5 cm - See more at: http://www.singkonggajah.com/2013/02/uji-coba-tanam-singkong-gajah-hasilkan.html#sthash.YclS5LtZ.dpuf

Uji Coba Tanam Singkong Gajah Hasilkan 42 Kg

Satu tahun yang lalu saya menanam singkong gajah di samping rumah , umur satu tahun setelah saya cabut beratnya mencapai 42 kg. kemudian saya ceritakan kepada kawan saya mengenai pengalaman menanam singkong gajah ini. dan kawan saya balik bertanya kepada saya :

Apa yang kamu lakukan untuk merawat singkong gajah supaya dalam satu tahun menghasilkan 42 kg singkong ??

Sebenarnya tidak ada yang terlalu istimewa dalam saya merawat tanaman singkong ini , Singkong Gajah ini Selain karena memang jenis singkong unggu.
saya hanya memberi pupuk dasar 3 kg kompos dan saya buatkan guludan sebelum saya tancapkan stek bibit singkong gajah , setelah umur satu bulan saya tambahkan lagi pupuk kompos 5 kg kemudian saya tutup dengan jerami padi. umur 1 , 3 dan 5 bulan saya beri pupuk UREA & NPK. Setelah itu sampai panen tiba saya hanya membersihkan gulma di sekitar tanaman agar tidak tumbuh.

Karena dulu saya tidak sempat mendokumentasikan , Baiklah kali ini saya akan mencoba menanam kembali dan saya dokumentasikan mulai dari awal penanaman sampai panen untuk saya posting disini :
 
Uji coba kembali mulai dari awal tanam akan saya gunakan satu pohon tanaman yang sama :
 

Singkong Gajah


1. Umur 10 Hari , Yang sebelumnya sebelum di tanam sudah saya kasih pupuk dasar kotoran ayam kering campur kulit padi.


2. Umur 18 Hari , tinggi tunas sudah mencapai 12 cm

Singkong Gajah

 
3. Umur 1 Bulan , Saya tambahkan lagi pupuk kompos 2 kg dan mulsa organik

Singkong Gajah

 

4. Umur 3 Bulan , Tinggi pohon mencapai 170 cm dan midle batang 2,5 cm

Singkong Gajah


5. Umur 8 Bulan , Midle batang mencapai 5 cm

Bersambung . .
Oke sampai disini dulu , 4 Bulan lagi akan saya upload foto hasil singkongnya setelah saya cabut . . ' karena sekarang baru berumur 8 bulan.

Sumber : http://www.singkonggajah.com/2013/02/uji-coba-tanam-singkong-gajah-hasilkan.html#sthash.YclS5LtZ.dpuf


Senin, 24 Desember 2012

MENTAN Canangkan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional

MENTAN Canangkan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional

Bertempat di Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, 24 Nopember 2009, yang lalu Menteri Pertanian Ir.Suswono, MMA melakukan “Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional”.  Acara ini antara lain dihadiri oleh para pimpinan daerah penerima bantuan kegiatan pengembangan agroindustri tepung-tepungan, Ibu-ibu penggerak PKK, Gapoktan, pelaku usaha tepung dan undangan lainnya.

Mengawali sambutannya, Menteri Pertanian mengatakan bahwa Pencanangan Percepatan Produksi Tepung Fermentasi dan Deklarasi Kemandirian Tepung Nasional ini sangat strategis dalam upaya mendorong peningkatan pembangunan agroindustri tepung-tepungan nasional, terutama peningkatan produksi tepung fermentasi yang saat ini mulai kembali digemari oleh masyarakat. Pencanangan ini diharapkan dapat mengawali peningkatan tambahan produksi tepung sekitar 20% dari kebutuhan impor nasional selama lima tahun ke depan. Mentan menjelaskan bahwa pada tahun 2008, impor gandum kita mencapai 5,2 juta ton.

Sedangkan dari 22,7 juta ton produksi ubi kayu, yang diolah menjadi bahan pangan dan non pangan baru mencapai 22,3% atau setara dengan 4,6 juta ton ubikayu segar. Hal ini berarti peluang pasar untuk tepung dari ubi kayu masih cukup besar.

Untuk mendukung kemandirian pangan dan daya saing produk lokal tersebut, pemerintah telah memberlakukan pengetatan pengawasan keamanan pangan segar asal tumbuhan melalui PERMENTAN No. 27 Tahun 2009 yang berlaku efektif sejak 19 Nopember 2009. Dengan diberlakukannya peraturan ini, maka komoditas impor yang tidak memenuhi ketentuan yang telah ditetapkan serta tidak aman untuk dikonsumsi, ditolak masuk ke Indonesia.  Adapun komoditas yang terkena peraturan ini antara lain gandum, jagung, kacang-kacangan dan beberapa serealia lainnya.

Komitmen Pemerintah dalam mengembangkan pangan nonberas, antara lain melalui berbagai kebijakan seperti mendorong diversifikasi pola konsumsi berbasis pangan lokal; meningkatkan pengetahuan dan kesadaran masyarakat terhadap keanekaragaman pangan; dan mendorong pengembangan teknologi pengolahan pangan non beras dan non terigu. Adapun beberapa upaya yang telah dilakukan pemerintah untuk mendorong industrialisasi tepung cassava antara lain berupa pemberikan stimulus pengembangan tepung-tepungan pada usaha kecil bidangpangan; sosialisasi, advokasi dan pembinaan peningkatan pemanfaatan pangan lokal melalui tepung-tepungan; pemberian peralatan pengolahan tepung-tepungan kepada usaha kecil bidang pangan dalam upaya meningkatkan produktivitas dan mutu tepung yang dihasilkan; mendorong keterlibatan perguruan tinggi dalam meneruskan sosialisasi dan pengembangan teknologi tepung-tepungan; dan terus mengupayakan pencitraan tepung cassava menjadi tepung nasional.

Pada kesempatan kunjungan kerja tersebut, Mentan menyerahkan sarana pengolahan tepung, antara lain berupa peralatan, starter(inokulan) fermentasi dan sarana bangunan secara simbolis kepada para bupati yang wilayahnya mendapat alokasi bantuan pada tahun anggaran 2009.

Menteri Pertanian juga menegaskan, kita harus mampu mempertahankan keberhasilan swasembada beras, dan kesanggupan negara kita memenuhi sebagian dari permintaan beras internasional, sekaligus menjadikan momentum ini untuk mencapai keberhasilan dalam upaya pengembangan agribisnis ubi kayu, khususnya di bidang pengolahan dan pemasaran hasil yang dapat memberikan nilai tambah bagi masyarakat di sentra-sentra produksi ubi kayu.

Mengakhiri kata sambutannya, Menteri Pertanian menegaskan pentingnya sinkronisasi dan sinergitas berbagai pihak yaitu antara pemerintah, petani, industri dan pelaku bisnis, pakar, peneliti, asosiasi, akademisi dan pihak-pihak terkait lainnya, akan sangat menentukan keberhasilan pembangunan agribisnis tepung-tepungan.

Sumber : http://gakoptri.wordpress.com/2009/12/02/mentan-canangkan-percepatan-produksi-tepung-fermentasi-dan-deklarasi-kemandirian-tepung-nasional/

Senin, 06 Agustus 2012

Singkong Pengganti Beras

Singkong Pengganti Beras

Dengan harga jauh lebih murah, memiliki zat pati sebagai sumber kalori 95% setara dengan beras dan tersedia sepanjang waktu tanpa harus Impor, singkong siap mengganti beras.



Singkong merupakan sumber karbohidrat potesial yang dapat dijadikan bahan pangan alternatif untuk mengurangi kosumsi beras  yang terus meningkat. Di samping sebagai bahan pokok singkong juga berpotensi dijadikan sebagai bahan industri rumah tangga (industri kecil) hingga industri besar.

Singkong, yang juga dikenal sebagai ketela pohon atau ubi kayu, adalah pohon tahunan tropika dan subtropika. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Merupakan umbi atau akar pohon yang panjang dengan fisik rata-rata bergaris tengah 2-3 cm dan panjang 50-80 cm, tergantung dari jenis singkong yang ditanam. Daging umbinya berwarna putih atau kekuning-kuningan. Umbi singkong tidak tahan simpan meskipun ditempatkan di lemari pendingin. Gejala kerusakan ditandai dengan keluarnya cairan berwarna biru gelap yang bersifat racun bagi manusia.

Budidaya Singkong
Tanaman ini tumbuh optimal pada ketinggian antara 10-700m dpl. Tanah yang sesuai adalah tanah yang berstruktur remah, gembur, tidak liat juga tidak poros. Selain itu kaya akan unsur hara. Sementara itu pH yang dibutuhkan antara 4,5-8, dan untuk pH idealnya adalah 5,8. Cara yang lazim digunakan adalah perbanyakan dengan cara setek batang. Setek yang baik diambil dari batang bagian tengah tanaman agar matanya tidak terlalu muda maupun tidak terlalu tua. Batang yang baik berdiameter 2-3 cm. Potongan batang untuk setek yang baik adala 3-4 ruas mata atau 15-20 cm. Bagian bawah dari batang stek dipotong miring dengan maksud untuk menambah dan memperluas daerah perakaran.

Agar tanaman dapat tumbuh baik dan optimal dilakukan dengan pengurangan mata tunas saat awal tunas itu muncul atau 1-1,5 bulan setelah tanam. Sisakan maksimal 2 tunas yang paling baik dan sehat dalam satu tanaman.Penyiangan dilakukan pada umur 2-3 bulan setelah tanam dan menjelang panen. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pemanenan serta mencegah kehilangan hasil panen selain dan mengendalikan populasi gulma yang tumbuh tanaman.


Produk Olahan
Menjadikan singkong sebagai makanan favorit atau pokok bukan sebagai makanan yang selingan bukanlah pekerjaan yang mudah, walau sifat fisiko-kimia dan fungsional dari pati singkong cukup baik. Banyak bahan makanan dengan bahan baku singkong yang sudah beredar di pasaran dan digemari. Misalnya, jenis makanan pacar cina. Walaupun menggunakan bahan baku tepung singkong, pacar cina sangat digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. 

Selain digunakan dalam es campur, juga sering digunakan dalam pembuatan puding dan sejenis. Makanan jenis lainnya adalah soun, yaitu mie bening dibuat dari tepung singkong (tapioka). Soun dapat digunakan dalam menu soto atau capcai yang banyak penggemarnya. Oleh sebab itu, sangat memungkinkan kalau singkong dengan produk beras-singkong semi-instan dapat diterima oleh masyarakat luas.

Teknologi pembuatan beras-singkong secara tradisional hampir sama untuk semua wilayah, baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan atau dari Filipina. Singkong direndam beberapa hari, kemudian dicuci sampai bersih untuk menghilangkan bau dan kotoran, selanjutnya dibuat tepung dan dikeringkan. Untuk membuat butiran seperti beras tepung dipercikkan air, dibuat butiran kecil, kemudian dikukus dan dikeringkan. Pengeringan biasanya dilakukan di panas matahari. Dengan panas matahari yang tinggi menjadikan singkong dapat disimpan dalam waktu yang lama.

Dalam proses pembuatan beras singkong semi instan, tahap pertama adalah pembersihan kulit dan pemotongan secara melintang singkong segar dengan ukuran panjang 2 cm. Rendam dalam air dengan menggunakan larutan soda kue 2% selama enam jam. Cuci bersih sampai bahan kimia perendam habis, dan selanjutnya potong dengan ukuran 0,2 cm x 2 cm (seukuran beras). 

Tahap selanjutnya kukus selama lima menit, tiriskan dan dikeringkan dengan pengering buatan seperti oven. Setelah kering simpan dalam stoples atau kantong plastik yang digunakan untuk makanan. Beras singkong semi instan siap digunakan.
 
Memang tidak mudah merubah kebiasaan masyarakat mengkonsumsi bahan makanan pokok beras dengan beras singkong, peru pendekatan dan penyuluhan secara terpadu.

Sumber : http://www.stpp-bogor.ac.id/html/index.php?id=artikel&kode=35

Kamis, 05 April 2012

Risalah dan Karakteristik Singkong Gajah





Penemuan Singkong Gajah dimulai dari tahun 2006 dan mulai dikembangkan pada tahun 2008, koleksi berbagai jenis Singkong Unggul yang dimiliki oleh BEC diteliti kembali oleh Prof. Ristono khususnya hasil inventarisasi dari berat umbi basah yang dihasilkan pada satu batang cabutan pohonnya di atas 20 kg diperoleh data berat pada satu jenis varietas yang “lokal” yaitu, 21 kg, 22 kg, 25 kg, 32 kg, 42 kg dan tertinggi adalah 46 kg. Pada akhirnya dilakukan kesepakatan untuk memberikan nama varietas tersebut.

Berbagai usulan muncul dengan hasil akhir ada tiga nama yang perlu dipertimbangkan yaitu: Genjah, Lembusana, dan Gajah. Atas pertimbangan yang mendalam untuk berbagai kepentingan maka diputuskan nama varietas Singkong Unggul yang dikembangkan oleh BEC tersebut adalah SINGKONG GAJAH, dimana keunggulan varietas ini terletak pada:

(1) berat umbi,

(2) kemudahan penanaman,

(3) bisa langsung dikonsumsi sebagai bahan makanan pengganti beras dengan rasa ketan, dan

(4) umur panen 6 – 10 bulan.


Karakteristik Singkong Gajah

Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat BEC (Borneo Environmental Community) telah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa & Politik Provinsi Kalimantan Timur dengan No.220/562/orm/2009, Tanggal 08 April 2009 yang berorientasi pada Lingkungan Hidup.

BEC telah menemukan jenis Singkong di Kalimantan Timur yang diberi nama “SINGKONG GAJAH” sebagai varietas ”Asli” Kalimantan Timur yang ditemukan oleh Prof. Dr. Ristono, MS (Ketua Umum BEC) dan dipublikasikan melalui Koran Lokal dan Internet sejak tanggal 08 juli 2008. Sosialisasi dan pengembangan dimulai tanggal 01 Juni 2009 dengan acara “Panen Raya dan Bazar Singkong Gajah” dilaksanakan di Desa Bukit Pariaman (Separi 1) Kec. Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.


Dalam rangka penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan LSM BEC dengan berbagai Media Tanam, Input Teknologi, dan Jenis Tanah yang berbeda menghasilkan variasi umbi basah cabutan per stek pada umur 9 bulan dengan berat 7 kg – 42 kg.

Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.

Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).

Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.

Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.

Potensi kandungan Tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.

Sehubungan dengan kondisi iklim di Kalimantan Timur yang sulit dibedakan antara musim penghujan dan kemarau, maka penanaman Singkong Gajah maupun panen di Kalimantan Timur sangat diuntungkan Dengan demikian penyediaan bahan baku untuk industri Tepung Tapioka dapat dilakukan setiap saat dengan rotasi tahunan tanpa memandang hari maupun bulan dengan luasan areal yang besar tersedia.

Perlu diwaspadai adanya siklus musim kering sepuluh tahunan sekali di mana bahaya kekurangan air bisa muncul, maka di dalam metode penanaman Singkong Gajah dalam skala luas harus ada penyediaan tandon air yang difasilitasi dengan mesin pompa air. Pemanfaatan air dan mesin ini sangat diperlukan khususnya pada waktu panen umbi.

Varietas Singkong Gajah ini sudah memperoleh dukungan dari INSTANSI PEMERINTAH yang terkait dan GUBERNUR Kalimantan Timur maupun BANK KALTIM.

Sumber : http://singkonggajah.wordpress.com/

Pabrik Bioetanol Berbahan Baku Singkong Diresmikan

TENGGARONG - Pabrik bioetanol berbahan baku singkong yang merupakan program corporate social responsibility (CSR) PT Indomining, diresmikan operasionalnya oleh Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) HM Ghufron Yusuf, Selasa (6/3) sore. Pabrik yang mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) 99,5 persen itu terletak di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga.

\Turut hadir pada peresmian itu, Kepala Bappeda Kukar Totok Heru Subroto, Kepala Disprindagkop Asmidi, Staf Ahli Bupati Otoy Usman dan Khairil Anwar, Kabag Humas dan Protokol Dafip Haryanto, dan unsur Muspika Sangasanga serta instansi terkait.

Sementara dari PT Indomining, dihadiri Chairman Toba Group Jenderal (Purn) Luhut B Pandjaitan, mantan Menkoperekonomian era Presiden Megawati Soekarnoputri, Rizal Ramli, mantan Menlu RI Hasan Wirayuda, mantan KSAD Jenderal S Bagiyo, dan jajaran direksi PT Indomining. Untuk diketahui, PT Indomining merupakan salah satu anak perusahaan Toba Group.

Ghufron Yusuf menyebut Pemkab Kukar menyambut baik pabrik biofuel ini, sebab dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lahan yang ada.
Pemkab juga berharap, kehadiran pabrik bioetanol berbahan baku singkong tersebut dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi warga, khususnya di Sangasanga.
“Kami meminta perusahaan agar memercayakan penanaman singkong sebagai bahan baku pabrik bioetanol ini kepada masyarakat dan bukan justru perusahaan sendiri yang mengelola pabrik hingga melakukan penanaman. Jadi, kami berharap dengan adanya pabrik ini taraf hidup masyarakat akan lebih meningkat,” katanya.

Selanjutnya, Ghufron menyampaikan terima kasih atas partisipasi investor membuka pabrik bioetanol berbahan baku singkong itu, sebab hingga saat ini masih banyak lahan yang bisa dikelola untuk penanaman singkong.

Sementara Chairman Toba Group Luhut B Pandjaitan mengatakan, pembangunan pabrik bioetanol itu merupakan satu salah program CSR PT Indomining, sebuah perusahaan tambang batu bara yang memiliki areal konsesi di Sangasanga.

“Jadi kami akan memberdayakan masyarakat melalui kelompok-kelompok tani dengan cara memberikan penyuluhan kepada mereka dalam proses penanaman singkong kemudian hasilnya akan dibeli oleh pabrik bioetanol ini,” katanya.

Hasil pengolahan singkong menjadi etanol itu, juga akan dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Hingga saat ini, pabrik bioetanol yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Indo Bio Energi milik PT Indomining baru mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan kebutuhan 3,5 ton singkong. “Kami berharap pabrik ini akan menghasilkan hingga 5.000 liter etanol per hari, sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat di Kabupaten Kukar,” sebutnya.


Singkong yang diolah tersebut, lanjut dia, menghasilkan FGE 99,5 persen. “Jika 90 persen premium dicampur 10 persen etanol, maka akan menghasilkan Pertamax Plus sehingga kami berharap produk ini akan menjadi energi alternatif pengganti BBM. Apalagi bahan bakunya sangat mudah ditemukan dan mudah tumbuh pada daerah kering,” terang Pandjaitan.

Sumber : http://singkonggajah.wordpress.com/