...Singkong jadi Andalan Indonesia untuk Pangan, Pakan dan Energi...

Rabu, 03 Desember 2014

AYO KEMBANGKAN OLAHAN PANGAN BERBASIS SINGKONG


HASIL OLAHAN PANGAN BERBASIS SINGKONG

Memilih terigu menjadi alternatif pangan pokok, ternyata bukan pilihan yang dapat menyelesaikan masalah, tetapi terbukti menimbulkan masalah baru yang tidak kalah pelik. Saat ini industri yang berbahan baku terigu, baik industri besar maupun industri kecil, serta konsumen rumah tangga yang sudah tergantung terigu makin menjerit karena harga terigu yang terus melambung.

Sebagai subtitusi dari tepung terigu maka perlu dilakukan sosialisasi dalam penggunaan bahan pangan pengganti yang dapat bersaing dengan gandum sebagai bahan dasar pembuatan makanan. Tepung singkong atau tepung tapioka mempunyai potensi sebagai bahan pengganti karena kemudahan dalam penanaman bahan baku, pengolahan serta harga yang relatif murah

Ekspor singkong Indonesia dalam bentuk gaplek (keratan ubi singkong yang dikeringkan), tepung gaplek, ataupun tepung tapioka cukup meyakinkan dan dapat bersaing, seperti gaplek Indonesia yang sangat terkenal di mancanegara, terutama di Uni Eropa, selain itu singkong dapat diolah menjadi Tepung, Gula tepung dan Gula Cair ( Fruktosa & Glukosa ), Cassava Chips dll.

HASIL OLAHAN SINGKONG SEBAGAI BAHAN BAKU BIOFUEL

Dua ancaman serius yang muncul akibat ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, yakni:

1. faktor ekonomi (keterbatasan eksplorasi yang berakibat pada suplai, harga; dan fluktuasinya), serta
2. faktor polusi bahan bakar fosil yang merugikan lingkungan hidup, mau tidak mau memaksa umat manusia untuk memikirkan alternatif energi yang lebih terjamin pengadaannya serta ramah terhadap lingkungan.

Gasohol adalah salah satu alternatif yang memungkinkan transisi ke arah implementasi energi alternatif berjalan dengan mulus. Dari sisi teknik pembangkitan daya dan emisi gas buang, ethanol (dalam bentuk murni ataupun campuran) relatif superior terhadap gasolin.

Terdapat beberapa hal yang bisa dipelajari dari Brazil dalam implementasi bioethanol, yakni:

1. Perlunya diversifikasi sumber ethanol untuk menghindari penurunan kualitas tanah secara radikal
2. Implementasi bahan bakar bioethanol lebih baik dimulai dari pencampuran gasoline + ethanol, bukan dari penggunaan bioethanol 100%. Hal tersebut akan menjamin transisi ke arah bioenergy secara lebih mulus sambil menyiapkan secara lebih matang seandainya era penggunaan bioethanol 100% dipandang sudah tiba
3. Perlunya kerjasama yang erat dengan pihak industri otomotif untuk menyediakan kendaraan yang optimal bagi implementasi bahan bakar gasoline + ethanol
4. Perlu sinergi antar instansi serta antara pemerintah pusat dan daerah dalam rangka penyediaan bahan baku, pemrosesan, serta distribusi bahan bakar bioethanol.
5. Penggunaan bahan bakar ethanol (murni ataupun campuran dengan gasolin) diperhitungkan telah menekan emisi CO2 di Brazil dari tahun 1995-2010 sebesar 293 ton (hipotesis rendah) hingga 461 ton (hipotesis tinggi). Ini berarti emisi CO2 tahunan yang bisa dikurangi di Brazil adalah sekitar 12% bila menggunakan hipotesis tinggi (Riberio dkk, 1997).

Sumber etanol tidak hanya berasal dari tebu dan singkong melainkan juga bisa didapatkan dari jagung, ubi jalar, sorgum, sweet sorgum, kentang, beet dan juga padi dengan efisiensi etanol yang tertinggi berasal dari jagung yang jumlahnya mencapai 400 liter per 1000 kilogram. Diikuti tetes tebu yang mencapai 250 liter per 1000 kilogramnya dan ubi kayu sejumlah 166,6 liter per kilogramnya.

Namun, bila diimplementasikan dari hasil panen masing-masing jenis tanaman maka tanaman yang menghasilkan etanol dengan produktivitas tertinggi adalah tebu disusul dengan ubi kayu.
Sumber : http://archive.kaskus.co.id/thread/2727295/0/singkong-solusi-bangsa

Selasa, 02 Desember 2014

Singkong komoditas strategis.... solusi bangsa !


Singkong Solusi Bangsa.....

Singkong/Ubi Kayu (Tapioca/Cassava) sejak dulu sudah terstigma "rendahan-kampungan", padahal dibalik stigma tersebut singkong memiliki "power" multi dimensi yang luar biasa.

Sangat banyak diantara kita yang tidak mengetahui bahkan "buta" sama sekali tentang kegunaan singkong, dan tanpa kita sadari bahwa ternyata kita semua ummat manusia diseluruh penjuru dunia dalam kurun waktu hidup kita telah menkonsumsi singkong dengan proporsi masing-masing setiap hari....setiap hari !

Well, coba liat daftar derivatif singkong/ubi kayu sebagai berikut :
Singkong >>>>Tepung Tapioca (Tapioca/Cassava Flour) :

1.Sorbitol
2.Modified Tapioca Flour
3.Sorbitol Powder
4.Maltitol
5.Glucose/Maltose Syrup
6.Maltodextrine & Dried Glucose Syrup
7.Dextrose Monohydrate

Dan secara global derivatif singkong yang disebut diatas kemudian dipergunakan diantaranya diolah lagi menjadi :

[*]Bahan dasar pasta gigi (odol) merek apapun
[*]Bahan dasar Tablet dan Kapsul
[*]MSG (Bumbu masak)
[*]Aneka Soft drink, Energy Drink, Syrup, Buah Kaleng, dll sebagai pemanis (Glucose)
[*]Saos Tomat, Sambel Botol (Instant), Ikan Kaleng, dll sebagai pengental
[*]Permen (Glucose)
[*]Ice Cream, sebagai pengental dan pemanis
[*]Aneka Waffer, sebagai crispy agent (yg membuat kriuk-kriuk)
[*]Kertas, sebagai perekat dan pemersatu bubur kertas (pulp), kertas ga' akan bisa tinta meresap dengan sempurna kalau tidak ada campur tangan singkong !
[*]Aneka Lem (Perekat)
[*]Perekat Warna sekaligus pada Textil
[*]Alkohol (medical)
[*]Bio Ethanol (Bahan Bakar masa depan yang sangat ramah lingkungan)
[*]Makanan ternak
[*]Aneka makanan ringan tradisional, dll

Untuk lebih jelasnya silahkan lihat video berikut ini :
SINGKONG RAKSASA PANJANG 4 METER+
Link : http://www.youtube.com/watch?v=s9LUiBnYAWo
Budidaya Singkong Secara Modern 'n Keren di Brazil
Link :http://www.youtube.com/watch?v=6MiI39DXDNo

Dari data kepabeanan kita, Indonesia masih mengimpor tepung tapioca terutama dari thailand dan kamboja. Kan aneh, padahal kalau dilihat dari potensi luasan lahan kita lebih unggul dari kedua negara tersebut, padahal Koes Ploes telah lama "mengingatkan" akan keunggulan singkong dan hampir sebagian dari kita ingat akan lirik berikut : "tongkat kayu dan batu jadi tanaman".

Keunggulan komparatif singkong :
1. Mudah di budidayakan
2. Masih banyaknya lahan nganggur disekitar kita
3. Singkong tidak mengenal musim, singkong hanya butuh air dan perwatan intensif 3-4 bulan pertama.
4. Perawatan dan pemeliharaan yg mudah
5. Pasar yang masif
Sumber : http://archive.kaskus.co.id/thread/2727295/100

Minggu, 30 November 2014

Cinta Petani terhadap Sang Singkong berbuah Penghasilan


Warianto, Petani Pecinta Singkong

30 Nov 2013 | 21:23
13858172121206297729
Sumber: Warianto sedang mempraktekkan cara mengokulasi singkong 
Adalah Warianto, seorang petani bersahaja yang sudah puluhan tahun melakukan eksperimen terhadap tanaman singkong alias ubi kayu. Saking seriusnya ia meneliti dan membudidayakan tanaman yang termasuk jenis ketela pohon ini, pada tahun 2007 ia terbang ke Samarinda, Kalimantan Timur, untuk mempelajari singkong gajah langsung dari ahlinya. Juga untuk mendapatkan bibit singkong gajah ini, yang waktu itu masih merupakan varian temuan baru. Ada pun penemu (kembali) singkong raksasa ini sejatinya adalah Profesor Ristono, peneliti asal universitas Mulawarman.
Sepulang dari Kalimantan Timur, Warianto berjaya membawa satu batang stek singkong gajah, sepanjang 30 cm, berikut satu eks buku petunjuk tehnik budidayanya. Stek itu lalu dipotong tiga, lalu ditanam dan dikembangkan.
Waktu penulis datang ke kebun singkong Warianto, ada bermacam jenis singkong yang ia tanam. Ada singkong gajah, singkong lampung, singkong Mukibat, singkong kuning, singkong roti, singkong Darul Hidayah dan lainnya. Cara penanaman singkong itu juga dilakukan dengan berbagai cara. Ada stek, okulasi, kopulasi dan stek cangkok benam.
1385820491177294843
Sumber: Ubi lampung umur 6 bulan
Beruntung, saat itu Warianto sedang memanen singkong gajahnya. Dari delapan pohon singkong umur delapan bulan yang dicabut, dihasilkan 105 kg ubi segar. Warianto menerangkan bahwa ubi yang dipanen ini sengaja tidak dipupuknya, sebagai bagian dari eksperimen. Sedangkan yang dipupuk sesuai dosis, dengan jarak tanam 1m x 1 m, satu pohon singkong gajah umur sepuluh bulan, bisa menghasilkan 20-25 kg ubi. Jika jarak tanam diperlebar menjadi 1x1,5m, maka ubi segar perpohon bisa mencapai 35 kg.
13858192661444258011
Sumber: Hasil singkong gajah umur 8 bulan
Warianto juga menerangkan bahwa ubi lampung, ubi kelanting, ubi Darul Hidayah, dan ubi roti, masih belum bisa mengalahkan produksi ubi segar dari singkong gajah. Produksi ubi gajah hanya bisa dikalahkan oleh ubi Mukibat versi Warianto. Yakni, okulasi singkong dengan batang bawah ubi gajah, dan batang atas ubi karet alias ubi bunga. Dengan cara ini, satu pohon bisa menghasilkan 40-50 kg ubi segar.
1385820640484323379
Sumber: ubi Mukibat versi Warianto, umur 4 bulan
Dari sekian banyak jenis ubi, ubi kuninglah yang paling sedikit buahnya. Satu pohon hanya menghasilkan 0,5-2 kg ubi segar saja. Namun Warianto tetap menanamnya, karena ia memang pecinta singkong.
1385820380158971357
Sumber: Ubi kuning umur 6 bulan
Sebelum pulang, Warianto menyempatkan diri memberi kursus gratis kepada penulis tentang cara terbaik mengokulasi singkong gajah dengan singkong karet.
Ternyata, ada beberapa trik khusus yang sangat penting agar okulasi berhasil, dan buahnya nanti banyak. Trik yang tak akan didapat jika dicari di dunia maya.
1385821152452624226
Sumber: cara okulasi singkong gajah
Warianto sendiri menjual bibit singkong gajah okulasi ini seharga Rp.2.500/pohon.
Pembeli harus memesan dulu jika berminat.

Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/612699/1/warianto-petani-pecinta-singkong.html

Potensi produksi aneka jenis dan varietas Singkong di Indonesia


Daftar Varietas Singkong dan Hasilnya

20 Dec 2013 | 14:42


Nama Singkong - Tonase Rerata hasil ubi segar
/ hektar / 10 bulan
1.Adira 1 28
2.Adira 2 32
3.Adira 4 -35
4.Malang 1 - 36
5.Malang 2 - 32
6.Malang 4 - 40
7.Malang 6- 37
8.Darul Hidayah- 80
9.Gajah- 120
10.Mekar Manik - 55
11.Mangu - 80
12.Lampung - 50
13.Mukibat 1 -80
14.Mukibat 2- 100
15.Mukibat 6- 130
16.Malaysia - 54
17.Trambesi- 34
18.Begog- 38
19.Kuning- 13.
20.Hijau- 32
21.Tahun- 28
22.Pulut- 24
23.Putih- 26
24.Keling- 18
Catatan :
-Semua varian singkong mukibat adalah singkong okulasi/kopulasi. Harga bibit rp.2.000-2.500/stek sambung.
-Singkong Darul Hidayah adalah singkong hasil pemuliaan. Bibit F3-nya, dst, sudah kurang menghasilkan.
-Singkong gajah adalah singkong alami asal Kaltim. Bibitnya bisa ditanam sampai tak terbatas keturunan ke berapa, dengan hasil tetap.
-Harga ubi segar kontrak 2013-2014 di Sumut di tingkat petani adalah rp.700/kg-nett. Upah panen dan transportasi sudah ditanggung pabrik.
Sumber : http://m.kompasiana.com/post/read/618184/1/daftar-varietas-singkong-dan-hasilnya.html

Jenis-jenis Singkong yang Enak untuk Dimakan


Jenis-jenis Singkong yang Enak untuk Dimakan

Salah satu bahan makanan khas tradisional Indonesia adalah singkong, ketela, atau umbi kayu. Singkong mempunyai varietas atau jenis-jenis yang berbeda walaupun tampilannya dari luar tampak sama. Ada juga jenis singkong yang tidak boleh dimakan karena mengandung racun.

Berikut ini informasi mengenai jenis-jenis singkong yang enak untuk dimakan.

1. Singkong Manggu

Singkong manggu berasal dari Jawa Barat yang telah dikenal sejak lama dan mempunyai diameter batang 4 - 5 cm. Jenis singkong yang satu ini bisa dikonsumsi karena mempunyai rasa yang enak, manis, dan dapat diolah menjadi beragam makanan. Singkong manggu mudah ditanam, mudah dikupas, dagingnya empuk, dan renyah serta mempunyai kadar pati yang tinggi.

2. Singkong Kuning atau Singkong Mentega

Singkong ini mempunyai tekstur lebih kenya dan legit serta warna yang kuning. Masakan yang dibuat menggunakan singkong ini mempunyai warna yang cantik dan menggugah selera. Singkong kuning sering dibuat menjadi tape singkong dengan rasa yang manis dan warna kuning yang cantik.

3. Singkong Gajah

Singkong Gajah
singkong-gajah.blogspot.com

Singkong ini berasal dari Kalimantan Timur dan mempunyai umbi yang besar dengan diameter 8 cm. Ketela yang satu ini bisa dikonsumsi dan mempunyai rasa yang gurih seperti mengandung mentega. Singkong ini dijadikan tepung dan bahan baku bioetanol. Singkong gajah memiliki umbi yang berat, mudah ditanam, dan bisa langsung dikonsumsi sebagai bahan makanan pengganti beras dengan rasa ketan.

4. Singkong Putih

Singkong putih memiliki tekstur yang lebih keras dan warna yang putih. Singkong yang satu ini cocok untuk aneka resep yang memakai teknik rebus atau kukus seperti kolak singkong, sup singkong daging, dan lain sebagainya.

5. Singkong Mukibat

Singkong mukibat berasal dari Jawa Timur yang ditemukan oleh Mukibat, seorang petani di desa Ngadiluwih, Kediri. Singkong mukibat merupakan hasil dari okulasi atau penyambungan antarbatang. Mukibat pertama kali membudidayakan singkong ini dengan cara menyambung singkong biasa dengan singkong karet. Biasanya, umbi singkong mukibat diambil patinya untuk diolah sebagai bioetanol.

6. Singkong Emas

Jenis singkong ini merupakan rekayasa bibit singkong dari Thailand yang dikawinkan dengan singkong karet lokal. Umbi ini pertama kali diperkenalkan di Bengkulu dan ditanam oleh petani Bengkulu. Umbi singkong emas ini bisa diolah pabrikasi menjadi beragam produk jadi seperti tepung terigu, minyak kompor, spirtus, bahan pembuat jamu hingga pakan ternak.

Sumber  :  http://intips-food.blogspot.com/2014/02/jenis-jenis-singkong-yang-enak-untuk-dimakan.html

Aneka jenis dan varietas Singkong yang dirilis Kemeteroan Pertanian

JENIS-JENIS (VARIETAS) SINGKONG/UBI


Varietas-verietas singkong unggul yang biasa di tanam antara lain: Valenca, Mangi, Betawi. Basiorao, Bogor, SPP, Muara, Mentega, Andira 1, Gading, Andira 2, Malang 1, Malang 2, dan Andira 4. Di beberapa daerah, singkong (Manihot utilissima) di kenal dengan berbagai nama, seperti ubi kayee (aceh), kasapean (sunda), Singkong (Jakarta),  tela pohong (jawa), tela belada (madura), lame kayu (makassar), pangala (papua).
Beberapa varietas unggul singkong yang telah dilepas oleh Kementrian Pertanian antara lain Adira 1, Adira 2, Adira 4, Malang 1, Malang 2, Darul Hidayah, Malang 4 maupun Malang 6.

Adira 1
Adira 1 mempunyai pucuk daun berwarna coklat dengan tangkai merah pada bagian atas dan merah muda pada bagian bawahnya.  Bentuk daunya menjari agak lonjong.  Warna batang muda hijau muda  sedangkan batang tua coklat kuning. Umur tanaman antara 7 -10 bulan dengan tinggi tanaman mencapai 1-2 meter.
Umbinya berwarna kuning dengan kulit luar coklat dan kulit dalam kuning.  Umbinya mempunyai rasa yang enak direbus, degan kadar tepung 45% dan kadar protein 0,5% pada saat basah serta kadar sianida (HCN) mencapai 27,5 mg per kilogram.  Umbinya cocok untuk diolah menjadi tape, kripik singkong atau dikonsumsi langsung.
Adira 1 agak tahan terhadap serangan hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus), tahan terhadap bakteri hawar daun Pseudomonas sonacaearum, dan Xantohomonas manihots.
Adira 1 mempunyai potensi hasil yang cukup tinggi mencapai rata-rata 22 ton per hektar

Adira 2
Adira 2 mempunyai ciri-ciri daunya berbentuk menjaai agak lonjong dan gemuk dengan warna pucuknya ungu.  Warna tangkai daun bagian atas merah muda dan bagian bawahnya hijau muda.  Warna tulang daunya merah muda pada bagian atas dan bagian bawahnya hijau muda. Warna batang muda hijau  muda dan menjadi putih coklat saat sudah tua.  Tinggi tanaman sekitar 1 – 2 meter dengan umur tanaman mencapai 8 -12 bulan.
Warna umbi putih dengan kulit bagian luar putih coklat dan bagian dalamnya ungu muda.  Kualitas rebusnya bagus namun rasanya agak pahit.  Umbinya mempunyai kandingan tepung 41% dan protein 0,7% saat basah dengan kadar sianida (HCN) sekitar 124 mg per kilogram.  Umbinya cocok untuk bahan baku tepung tapioka.
Adira 2 ini tahan terhadap serangan penyakit layu (Pseudomonas solanacearum) dan agak tahan terhadap tugau merah (Tetrabnichus bimaculatus).
Adira 2 mempunyai potensi hasil cukup tinggi mencapai 22 ton per hektar umbi basah.

Adira 4.
Ciri-ciri dari Adira 4 ini antara lain pucuk daun berwarna hijau dengan bentuk daunya biasa agak lonjong dan tulang daunya berwarna merah muda pada bgaian atas serta hijau muda pada bagian bawahnya.  Warna tangkai daun bagian ataas merah kehijauan dan bagian bawahnya hijau muda.  Warna batang muda hijau dan batang tua abu-abu. Tinggi tanaman antara 1,5 – 2 meter dengan umur tanaman mencapai 10 bulan.
Umbinya berwarna putih dengan kulit luar coklat dan ros bagian dalamnya.  Umbinya mempunyai kualitas rebus yang bagus namun agak pahit.  Umbinya mempunyai kandungan tepung mencapai 18-22 % dan proteinya 0,8 – 22% dengan kadar HCN sekitar 68 mg per kilogram. Umbinya  cocok untuk  bahan baku tepung tapioka.
Adira 4 tahan terhadap serangan Pseudomonas solanacearum, dan Xanthomonas manihots, dan agak  tahan terhadap hama tungau merah (Tetranichus bimaculatus).
Adira 4 ini mempunyai potensi hasil yang tinggi mencapai 35 ton per hektar umbi basah.

Malang 1.
Malang 1 mempunyai daun berwarna hijau keunguan dengan bentuk daun menjari agak gemuk.  Dengan tangkai daun bagian atas hijau kekuningan dengan becak ungu merah pada bagian pangkal bawah.  Warna batang muda hijau muda dan hijau keabu-abuan pada bagian bawahnya.  Tinggi tanaman mencapai 1,5 – 3,0 meter dengan umur tanaman mencapai 9-10 bulan.
Umbinya berwarna putih kekuningan dengan kualitas rebus yang enak dan rasa manis. Kandungan tepungnya mencapai 32-36% dan proteinya mencapai 0,5 % umbi segar.  Kadar sianida (HCN) kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.  Umbinya cocok sebagai bahan baku tepung tapioka.
Malang 1 ini toleran terhadap serangan tungau merah Tetranichus sp dan becak daun Cercospora spserta daya adaptasinya cukup luas.
Potensi hasilnya cukup tinggi antara 24,3 sampai 48,7 ton per hektar dengan rata-rata hasil mencapai 36,5 ton per hektar.

Malang 2. 
Malang 2 mempunyai bentuk daun menjari dengan cuping yang sempit.  Warna pucuk daunya hijau muda kekuningan dengan tangkai daun atas hijau muda kekuningan dan bagian bawahnya hijau.  Warna batang muda hijau muda dan batang tua coklat kemerahan.  Tinggi tanamn mencapai 1,5 – 3,0 meter dengan unmur mencapai 8 – 10 bulan.
Warna umbinya kuning muda dengan warna kulit luar coklat kemerahan dan putih kecoklatan bagian dalamnya.  rasa umbinya enak dengan kandungan tepungnya mencapai 32 – 36%, protein 0,5% umbui segar dan sianida (HCN) kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.
Malang 2 toleran terhadap penyakit becak daun Cercospora sp dan hawar daun (Cassava bacterial blight) namun agak peka terhadap tungau merah Tetranichus sp.
Potensi hasilnya tinggi mencapai 20 – 42 ton per hektar dengan rata-rata hasil mencapai 31, 5 ton per hektar umbi basah.

Malang 4.
Bentuk daunya menjari dengan lamina gemuk.  Warna daun muda ungu dan berubah menjadi hijau saat tua dengan tangkai daun berawarna hijau.  Warna batang keunguan. Malang 4 termasuk varietas singkong yang tidak bercabang. Tinggi tanaman kurang dari 2 meter dan umur tanaman mencapai 9 bulan.
Umbinya berwarna putih dengan kulit luar coklat dan kulit bagian dalam kuning.  Ukuran umbinya besar dan kualitas rebusnya baik namun rasanya agak pahit.  Kandungan tepung 25 – 32 % dan sianida (HCN) kurang dari 100 ppm dengan metode asam pikrat.
Malang 4 agak tahan terhadap tungau merah Tetranichus sp.  Selain itu Malang 4 juga adaptif pada lahan-lahan dengan kandungan hara sub optimal.  Potensi hasilnya tinggi mencapai 39.7 ton per hektar umbi basah.

Malang 6.
Bentuk daunya menjari dengan lamina gemuk. Warna daun muda ungu dan yang tua berwarna hijau dengan tangkai daun hijau muda.  batang berwarna abu-abu.  Tinggi tanamn kurang dari 2 meter dengan umur tanaman mencapai 9 bulan.
Umbinya berwarna putih dengan kulit luar berwarna putih dan berwarna kuning pada bagian dalamnya.  Ukuran umbi termasuk sedang dengan kualitas rebusnya baik, namun rasanya pahit.  kandungan tepung 25 – 32 % dan sianida (HCN) kurang dari 100 ppm dengan metode asam pikrat.
Malang 6 agak tahan terhadap tungau merah Tetranichus sp. Potensi hasilnya tinggi  dengan rata-rata hasilnya mencapai 36,41 ton per hektar umbi basah.  Selain itu Malang 6 adaptif terhadap hara sub optimal.

Darul Hidayah
Bentuk daunya menjari agak ramping dengan warna pucuk daun hijau agak kekuningan dan tangkai daun tua berwarna  merah.    Warna batang muda hijau dan yang tua berwarna putih.  Kulit batangnya  mudah  mengelupas.  Bercabang sangat ekstensif hingga mencapai 4 cabang.  Tinggi tanamn mencapai 3,65 meter dengan umur tanaman mencapai 8 -12 bulan.
Umbinya memanjang berwarna putih dengan tekstur padat, kualitas rebus baik dengan rasa umbinya kenyal seperti ketan.  kandungan tepung 25 – 31,5 %, kandungan air 55 – 65%, kandungan serat 0,96% dan dan kandungan sianida (HCN) cukup rendah   kurang dari 40 mg per kilogram dengan metode asam pikrat.  Umbinya cocok untuk bahan baku kripik singkong.
Potensi hasilnya sangat tinggi mencapai 102,10 ton per hektar  umbi basah namun varietas ini agak peka terhadap tunga merah Tetranichus sp dan penyakit bususk jamur Fusarium sp.
Sumber: Biro Umum dan Humas Deptan

Sumber :  http://ayatcahyadi1.blogspot.com/2013/05/jenis-singkongubi.html

Rabu, 13 November 2013

Singkong Gajah Dari Samarinda Masuk Pentas Internasional

 

IMG-20130509-00196

Singkong Gajah Dari Samarinda Masuk Pentas Internasional

Rencana bisnis dari Singkong Gajah (Elephant Casava) yang ditemukan oleh Professor  Ristono di Samarinda kini bersaing di pentas international dalam ajang Lee Kuan Yew Global Business Plan Competition yang diadakan oleh Singapore Management University. Kompetisi ini sendiri bertujuan mencari ide – ide baru yang dapat menggugah dunia.

Dan tidak tanggung – tanggung, saat ini dalam kompetisi, ide Singkong Gajah masuk 6 besar dari 16 ide yang lolos ke semifinal. Dan perlu diketahui, untuk masuk tahap semifinal ini grup Singkong Gajah harus menyisihkan ratusan ide – ide bisnis lainnya yang berasal dari 75 institusi dan universitas di seluruh dunia. Namun masih ada satu tahap lagi yang harus dilalui sebelum akhirnya dipertemukan oleh Angel Investor dengan perusahaan agricultur raksasa “Wilmar” selaku sponsor tunggal kompetisi yang kemungkinan besar akan memberikan investasi penuh bagi pemenang kompetisi.
Adalah Arbiyan Christianto dan Aryo Andityo, dua mahasiswa dari Universitas Gajah Mada yang meminjam produk Singkong Gajah untuk diperkenalkan kepada komunitas internasional.

Dalam kompetisi, tim memperkenalkan Singkong Gajah dengan pendekatan korporasi. Dijelaskan dalam rencana bisnis bahwa Singkong Gajah adalah tanaman multyfungsi yang mampu mencapai break event point (titik impas) dalam jangka waktu sangat singkat. Perusahaan yang dibentuk juga akan berdasarkan konsep social corporation dan eco friendly business dimana realisasinya akan memberdayakan petani tradisional dan masyarakat desa dalam memproses Singkong Gajah menjadi produk – produk seperti tepung mocaf, biobriket, flavonoid, dan baglogs tanpa menyisakan limbah sama sekali.

Kedua mahasiswa ini menganggap bahwa Singkong Gajah memang superior dari segi apapun. Namun sangat disayangkan bahwa perhatian pemerintah dirasa masih sangat minim terhadap Singkong Gajah yang dapat memajukan kualitas hidup masyarakat itu. Oleh karena itu, perlu perjuangan ekstra keras untuk mendapatkan pengakuan dari berbagai pihak.

Prof Ristono, sekaligus pembina dalam kompetisi ini, kepada tribunkaltim.co.id Senin (19/8/2013) lebih memperinci terkait “supernya” produk temuannya ini. Dari 1 hektar sendiri, dapat dihasilkan sekitar 100 ton Singkong Gajah. Sangat jauh dari singkong tradisional yang hanya 5 – 10 ton perhektarnya. Memang selama ini, produksi singkong dapat ditingkatkan dengan bahan kimia namun sama saja akan menambah permasalahan dunia yang baru. Singkong Gajah menurut Ristiono dapat menjawab sedikitnya 4 masalah terbesar yang di hadapi dunia saat ini. Mulai dari masalah pangan, energi, kesehatan dan inilah yang selalu ditekannya kepada dua mahasiswa yang sedang berkompetisi.

“Produk apa yang ada nilai ekonomisnya, yang bisa dilaksanakan secara menyeluruh, secara orang banyak dalam waktu singkat dengan tekhnologi yang ada dulu. Itu yang perlu dipikirkan,” kata Ristono.

Untuk pangan, Singkong Gajah diolah sedemikian rupa menjadi tepung mocaf yang sangat layak untuk menggantikan tepung gandum yang ada selama ini. Untuk energi, tepung kanji dapat digunakan sebagai perekat dalam pembuatan briket batu bara (biobriket). Dan untuk kesehatan, kandungan flanovoid di Singkong Gajah juga dapat menyembuhkan penyakit kanker. Bahkan sisa dari proses produksi ini dapat digunakan sebagai media tanam (baglogs) sehingga  nyaris tanpa limbah.

Dan rencananya, Ristiono sendiri juga akan mengikuti langsung acara final pada 24 Agustus mendatang di Singapura.

“Saya ingin melihat seperti apa produk yang di tawarkan 6 finalis lainnya,” kata Ristiono.
 
Editor: Budi Prasetyo
Sumber: Tribun Kaltim
Sumber Foto : http://singkonggajah.wordpress.com/