...Singkong jadi Andalan Indonesia untuk Pangan, Pakan dan Energi...

Selasa, 15 Juni 2010

Membuat Racun Rumput (menjadi) Murah

SERI PENGALAMAN PETANI NUNUKAN

Membuat Racun Rumput (menjadi) Murah

Oleh : Dian Kusumanto

Beberapa waktu yang lalu penulis pernah menyajikan beberapa pengalaman petani untuk membuat atau meramu sendiri racun rumput yang murah tetapi tetap berdaya guna.   Ada 3 resep yang sudah disajikan yaitu Gus Bensol 11, Alur G 12 dan Hervit Top 13.  Nama-nama itu dibuat oleh penulis agar mudah diingat, karena susunan hurufnya adalah singkatan dari unsur-unsur bahan pembuatan   racun rumput hasil rekayasa petaninya.

Gus Bensol 11, disebut demikian karena bahan untuk meramu racun rumput ini terdiri dari : G (garam, U (Urea),  S (Sabun Colek), Ben (Bensin) dan  Sol (Solar).  Kemudian angka 11, artinya semua bahan dengan perbandingan  1 (Kg) : 1 (Kg) : 1 (Wadah) : 1 (Liter)  : 1 (Liter).  Racun rumput yang bersifat kontak ini dibuat petani jika sudah kepepet karena tidak punya uang cukup untuk membeli herbisida atau pada saat stok herbisida kosong tetapi rumput sudah tiba saatnya harus dibasmi.  Penulis mendapatkan resep ini dari Pak Mo di Jalan Sungai Lemo Sedadap Nunukan Selatan.

Alur G 12, terbuat dari Al (Air Laut) 12 liter, Ur (Urea) 2 kg dan G (salah satu nama Herbisida kontak) sebanyak 1 liter.   Semua bahan dicampur dan kemudian dimasak hingga mendidih.    Resep ini sebenarnya untuk menghemat herbisida yang harganya sangat mahal, untuk diperbanyak dari 1 liter menjadi 12 liter agar biaya dalam pembasmian rumput ini menjadi murah bagi petaninya.  Sebenarnya resep ini diperoleh dan dipraktekkan oleh Pak Mustafa, petani Jagung di Sei Jepun Nunukan Selatan, pada saat bekerja di kebun Kelapa Sawit di Lahat Dato Sabah Malaysia.  Sepulangnya dari ‘makan gaji’ di Malaysia Pak Mustafa selalu mempraktekkannya untuk  lahan Jagungnya  di Sei Jepun seluas sekitar 4 hektar.

Hervit Top 13, berbahan Her (herbisida) 1 liter, Vit (Vitsin) 250 gram atau satu kantong dan Top (Toak Pahit) sebanyak 3 liter.  Semua bahan dicampur dan bisa digunakan langsung sebagaimana biasanya.   Resep ini dicatat dari temuan Pak Asri Aziz seorang PPL Sebatik Barat dari beberapa petani binaannya  yang sudah terbiasa digunakan petani.   Menurut petani sebenarnya dulu resepnya hanya menggunakan Vitsin dan  Toak Pahit saja, namun kemudian petani ingin lebih menguatkan efeknya  dengan menambahkan herbisida.

Pada saat penulis  mengikuti  Pekan Daerah KTNA di Kota Tenggarong, sempat bertemu beberapa petani dari  Bengalon Kutai Timur Kalimantan Timur, yaitu Pak Saifuddin,  Pak Gioto dan Pak Ismail.   Dari Bengalon Kutai Timur ini sudah biasa menggunakan resep untuk memperbanyak racun rumput, khususnya yang bersifat sistemik (yaitu R..).   Resep dari Bengalon  ini berbahan Ragi, Urea, Air Hujan dan Herbisida dengan perbandingan  Ragi  Tape (1 kantong),  Urea (1 kg), Herbisida (R) 1 liter dan Air Hujan sampai dengan 5 liter.   Semua bahan dicampur  dan diaduk sampai merata kemudian diperam dalam wadah yang kedap sinar dan disimpan selama 1 minggu.    

Racun rumput ini agar mudah mengingat bahan   pembuatnya    maka disebut sebagai  Heragur AH5, maksudnya Her (herbisida), Rag (Ragi Tape), Ur (Urea) dan AH (Air Hujan) serta 5 maksudnya menjadi 5 liter.

Hikmah berkumpul dengan petani peserta Peda dan Rembug KTNA yang lain lagi adalah pengalaman petani dari Sebatik, yaitu Pak H. Alimuddin Ketua Kelompok Tani Sinar 2000.   Ada resep racun rumput yang berbahan Air Fermentasi Kakao atau sering disebut Air Kakao, Sabun Colek, Urea dan Herbisida kontak (seperti G..).   Cara dan resepnya yaitu,  memasak air biasa yang dicampur sabun colek (setengah kg) sambil terus diaduk sampai rata atau larut dan mendidih.  Setelah itu dicampurkan bahan-bahan lain seperi Urea ( 1 kg),  Herbisida (5 liter) dan Air Kakao (15 liter) dan diaduk hingga merata.

Penggunaan racun rumput oplosan ini adalah sebanyak 200 ml untuk satu tangki Sprayer 16 literan.  Biasa digunakan sebagai racun rumput kontak untuk sawah.   Kelemahan racun rumput ini adalah jika digunakan dengan Sprayer berbahan logam akan mudah korosi atau berkarat.

Agar memudahkan mengingat maka penulis member nama resep ini dengan  Arkosur H 515, maksudnya Arko (Air Kakao), S (Sabun Colek), Ur (Urea), H (Herbisida) dan 515 (5 liter herbisida dibandingkan 15 liter air kakao).

Resep-resep ini adalah karya dari petani yang cukup kreatif untuk mengatasi keterbatasannya tetapi terus berusaha tani dengan biaya yang lebih hemat .   Ini adalah bukti dari kearifan local para petani menghadapi keadaan semakin mahal dan langkanya racun rumput di pasaran.  Harapannya agar resep-resep ini dapat menjadi referensi bagi petani yang lain.  Meskipun ini bukan anjuran teknologi yang paten dan diakui oleh Pemerintah, tetapi silakan saja dicoba untuk kalangan petani sendiri dan kalau perlu dikembangkan dengan resep-resep yang lainnya.

Bagaimana menurut Anda?  Adakah resep dan pengalaman yang lain di sekitar Anda?

9 komentar:

  1. Resep2nya sangat bagus kang.. Harga bisa irit.... cuman yang menjadi ganjalan saya bagaimana pengaruh pencampuran bahan2 tersebut tentunya terhadap sifat fisik, kimia dan biologi tanah, apakah sudah ada penelitian yang mendalam akan hal tersebut. jangan sampai karena gara2 mau murah justtru tanah tambah rusak... trims infonya. http://paperta.blogspot.com/

    BalasHapus
  2. boleh dicoba ya pak...mohon ijin ilmunya untuk kita sebarkan ke temen2 ya pak dgn ttp mencantumkan link anda. terimakasih

    BalasHapus
  3. Dari beberapa testimoni, campuran ini sama sekali gak bekerja Pak, apakah ada formula yang lupa dimasukkan?
    Terimakasih,
    Robert/Sumut

    BalasHapus
  4. Okey,slamat mencoba y bos.diantara kelima herbisida oplosan ini,mana yg lebih paten?

    BalasHapus
  5. maaf newbe ni, boleh dong jelaskan apa pengaruh ragi pada campuran herbisida yg diatas, kalau bisa dengan interaksinya juga ya?

    BalasHapus
  6. Pada perkebunan singkong & perkebunan lainnya seharusnya pembasmian rumput dengan racun rumput seperti cara di atas tidak perlu, apalagi yang namanya racun rumput tetap saja masih ada bahan - bahan kimia. Alangkah baiknya jika perkebunan singkong terintegrasi dengan peternakan sapi ato domba, semua berawal dari alam dan harus kembali ke alam, rumput & limbah singkong bisa di manfaatkan sebagai pakan ternak. Kotoran ternak bisa di manfaatkan untuk pupuk pada saat pengolahan lahan & tentunya bisa membuat tanah semakin subur. Sudah saatnya kita bisa memanfaatkan alam sekitar dengan baik & selalu menjaganya dengan baik pula, Go Green...Indonesiaku

    BalasHapus
    Balasan
    1. sangat setuji sekali untuk pendapat agan satri4 membangun sekali untuk alam semesta

      Hapus
  7. pertanian untuk mendapatkan hasil yang maksimal tidak harus memakai bahan kimia, yang ditakutkan tanahnya akan rusak,.juga tidak perlu dibakar karena akan mengaibatkan banyak polusi, kesuburan tanan akan berkurang dikarenakan kuman penghail hormon tanah akan mati akibat dari racun rumput dan pembakaran,..yang lebih bagus ini pengelaman teman2 petani,,,sebaiknya ketika bercocok tanam itu memakai TUMBUHAN KACANG-KACANGAN, ini ampuh untuk mematikan rumput.trim......semoga kita bisa mendapat terobosan baru untuk racun rumput yang tidak berbahaya

    BalasHapus
  8. kenapa uyg punya rumah ini kkok diem aja gak ada balasan sama sekali

    BalasHapus