...Singkong jadi Andalan Indonesia untuk Pangan, Pakan dan Energi...

Minggu, 15 Agustus 2010

Sensasi Brownies Singkong


Sensasi Brownies Singkong

Posted by depoklik on Aug 15th, 2010 // No Comment 


when east meet west, ungkapan tersebut rasanya cukup mewakili petualang kuliner depoklik kali ini yaitu, brownies singkong dari Hannah Cake&Cookies .Rasanya lebih legit dan padat jika dibandingkan dengan brownies yang menggunakan tepung terigu. Pilihan rasanya pun menggugah selera, seperti green tea, moccacino, kacang, dan pandan yang semuanya dicampur dengan bahan dasar singkong. Bila brownies pada umumnya menggunakan perpaduan selai coklat, maka brownies singkong Ibu Sri ini menggunakan selai strawberry, bluberry, bahkan belimbing. Plus, bisa bertahan delapan sampai sepuluh hari diluar lemari es.

Sri Mutiningsih, pemilik sekaligus koki di Hannah Cake&Cookies menambahkan bahwa bahan dasar singkong lebih menguntungkan bagi pembeli dan penjual. “Tepung singkong lebih irit dari segi berat timbangannya jadi kue yang saya buat dapat lebih mengembang, lebih ekonomis, tidak mengandung gluten sehingga baik untuk pencernaan, “jelas finalis Wanita Wirausaha Femina 2009 ini. Brownies singkong juga dapat bertahan lebih lama, yaitu delapan hingga sepuluh hari di luar lemari es.

Sekedar informasi, ternyata brownies singkong dari Depok ini sudah melanglang buana. Berbagai media cetak mulai dari koran hingga majalah telah memuat si brownies singkong ini. Bahkan media elektronik dari online hingga televisi juga tak ketinggalan mengejar kenikmatan si singkong saat berubah wujud menjadi brownies ini. Tak perlu heran juga, sebab brownies singkong sudah berkali-kali mengikuti pameran makanan seperti Market Plan UKMCSR FEUI 2006 dan menjadi pemenang Pangan Award 2009 kategori diversifikasi makanan. Hmm…sepertinya tak perlu diragukan lagi kualitasnya, ya?

Bila selama Ramadhan atau Idul Fitri, kudapan yang tersaji hanya itu-itu saja, coba sajikan brownies singkong di meja makan Anda sebagai alternatif hidangan hari raya Anda dan keluarga. Anda cukup memesan lewat telepon, email atau langsung datang saja ke kediaman Sri Mutiningsih. Sebaiknya Anda memesan terlebih dahulu, sebab sistem Hannah Cake&Cookies dibuat bila ada pesanan supaya fresh from the oven. Selamat mencoba!

Hannah Cake&Cookie
Jl. Citayam Raya – Gg. Bakti RT 002/02 No.57
Telp. 77216800, 30575161, 081310961612
E-mail : cassavabrownies@yahoo.co.id
Produk: brownies singkong, aneka cake, dan aneka kue-kue panggang (seperti nastar, putri salju)
Harga : Rp 20.000 hingga kisaran Rp. 100.000

Windu Puspa Ningtyas

Foto: WPN

Brownies Singkong, Tahan 12 Hari di Luar Kulkas


Brownies Singkong, Tahan 12 Hari di Luar Kulkas

Oleh : Samsul Hadi


Selama ini singkong hanya dipandang sebelah mata. Padahal dengan pengolahan yang baik, tepung singkong dapat menjadi pengganti bahan baku tepung terigu, yang harganya semakin mahal.

Ketika usaha jalan di tempat, melakukan inovasi produk mungkin lebih efektif untuk mengatasinya, ketimbang mencari peluang bisnis baru. Dan, banyak pelaku usaha melakukan hal itu. Salah satu dari mereka yaitu Sri Murtiningsih, pembuat cake brownies.

Pada 2003, Sri, begitu ia biasa disapa, membuat kue bantat berasa legit itu dari tepung terigu. Tetapi, karena para pelaku usaha di produk yang sama sangat banyak, maka usahanya pun maju tidak mundur enggak juga. Untuk mengatasi kondisi ini, sarjana komputer dari Universitas Gunadharma, Jakarta, ini menerima tawaran untuk mengikuti pelatihan membuat makanan dari tepung singkong atau yang biasa disebut mocal (modified cassava flour). Sekadar informasi, pelatihan ini diselenggarakan oleh sebuah lembaga bekerja sama dengan PT Sentrafood, perusahaan distributor tepung singkong.

Sejak itu atau tepatnya dua tahun lalu, ia beralih dari tepung terigu ke tepung singkong. “Dari segi biaya produksi, tidak terjadi pengurangan yang signifikan. Sebab, saya menggunakan bahan baku tambahan yang berkualitas nomor satu. Tapi, di luar itu semua adalah keunikannya, mengingat hampir semua makanan terbuat dari tepung terigu. Sehingga hal ini memicu peningkatan permintaan hingga 20%. Selain itu, brownies dari tepung singkong rasanya lebih enak,” kata ibu dua anak ini, agak berpromosi.

Rasa inilah yang menjadi pembeda antara Hanah Cake, demikian label brownies singkong buatan Sri, dengan produk sejenis. “Dengan rasa seperti inilah pembeli yang semula sekadar mencicipi, keesokannya akan membeli tanpa ragu lagi. Pada rasa inilah terletak mutu produk saya, sehingga konsumen tidak perduli lagi dengan harganya. Meski untuk itu saya harus menekan harga serendah mungkin. Melalui rasa ini pulalah saya ingin menciptakan pasar, tidak lagi mengikuti pasar,” ujar Sri, yang saat ini juga sedang membuat cookies (lebaran) dari tepung singkong.

Perempuan yang sekarang ditugasi sebagai konsultan pembuatan makanan berbahan tepung singkong ini, membuat dua jenis brownies yaitu kukus dan panggang. Keduanya dibuat dalam tiga ukuran yakni 10 cm x 12 cm, 10 cm x 20 cm, dan 24 cm x 24 cm dengan kisaran harga Rp17 ribu–Rp65 ribu untuk setiap loyangnya. Setiap brownies memiliki topping yang berbeda-beda, tergantung permintaan konsumen, seperti keju parut, cokelat putih, cokelat blog, atau cokelat chips. “Khusus untuk topping keju parut, ada penambahan biaya sekitar Rp3 ribu/loyang,” jelas istri seorang guru SMP (Sekolah Menengah Pertama) ini.

Namun, karena modal tidak mencukupi, Sri belum memunyai gerai sehingga hanya menerima pesanan. “Selain itu, dengan cuma melayani pemesanan, saya bermaksud memberikan brownies yang fresh from the oven,” ujar Sri, yang mengalami peningkatan pemesan hingga empat kali lipat setiap menjelang lebaran. Untuk pemesanan, ia menyarankan dua atau tiga hari sebelumnya, meski ia mampu melayani pemesanan mendadak. Untuk tambahan pelayanan, ia juga menyediakan jasa antar (delivery) di sekitar Jakarta–Bekasi dengan biaya minimal Rp10 ribu.

“Saya juga memilih memasarkan brownies saya melalui berbagai bazar atau pameran daripada menitipkan ke kantin-kantin. Sebab, hasilnya jelas-jelas sangat efektif yaitu mampu menghabiskan 10–12 loyang ukuran kecil,” imbuh wanita Jawa kelahiran Jakarta hampir 38 tahun lalu itu. Di samping itu, ia juga berpromosi melalui internet. Kini Hanah Cake telah tersebar ke Jabodetabek (Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi) dan Surabaya.

Apa sih kelebihan tepung singkong dibandingkan tepung terigu? “Dilihat dari teksturnya, tepung singkong lebih padat sehingga dalam penggunaannya lebih irit. Misalnya, untuk membuat satu adonan kue dibutuhkan 200 gr tepung terigu. Sedangkan dengan tepung singkong hanya diperlukan 150 gr. Di samping itu, tepung singkong memunyai kadar air lebih sedikit sehingga brownies cepat matang saat dikukus, kadar gula lebih tinggi sehingga irit penggunaan gula, rasanya netral sehingga gampang menyerap penambah rasa apa pun, dan harganya lebih murah (tepung terigu dijual dengan harga Rp7 ribu–Rp10 ribu per kilogram, sedangkan tepung singkong Rp5 ribu/kg, red.),” jelasnya.

Dilihat dari daya tahannya, ia melanjutkan, tepung singkong dapat disimpan hingga setahun sedangkan tepung terigu baru sebulan sudah kutuan. Setelah diolah menjadi brownies, brownies singkong mampu bertahan 12 hari di luar lemari es, sedangkan browines terigu hanya selama seminggu (di dalam kulkas, baik brownies singkong maupun brownies terigu mampu bertahan selama sebulan, red.).

Namun, dari segi ketersediaan, ia menambahkan, tepung singkong belum sebanyak tepung terigu. Maklum, pabrik pengolahannya baru ada tiga yaitu di Trenggalek (Jawa Timur), Lampung, dan Karawang (Jawa Barat). Selain itu, sebagian besar tepung singkong yang dihasilkan lebih banyak digunakan untuk memenuhi pasokan berbagai industri makanan di luar Pulau Jawa. Tapi, Sri sendiri sampai sejauh ini tidak pernah kesulitan pasokan. Nah, selamat mencicipi.

Enam Keunggulan Tepung Singkong Dibandingkan Tepung Terigu:
Teksturnya lebih padat sehingga dalam penggunaannya lebih irit.
Kadar air lebih sedikit sehingga kue cepat matang saat dikukus.
Kadar gula lebih tinggi sehingga irit penggunaan gula atau bahan pemanis lain.
Rasanya netral sehingga gampang menyerap penambah rasa apa pun.
Harganya lebih murah.
Setelah diolah menjadi kue, daya tahannya lebih lama daripada yang terbuat dari tepung terigu.

(sumber: Majalah Pengusaha – Peluang Usaha dan Solusinya)

Lezatnya Aneka Kue dari Bahan Singkong



Lezatnya Aneka Kue dari Bahan Singkong


Olahan singkong tak musti hanya menjadi makanan yang tidak menarik, baik secara estetika maupun rasa. Singkong bisa diolah menjadi aneka penganan yang menarik dan memiliki nilai ekonomi yang tinggi.

Di rumahnya di kawasan Pancoran, Depok, Jawa Barat, ubi kayu ini bisa diolah menjadi aneka macam penganan jenis cake, brownies, dan aneka cookies atau kue-kue kering yang kaya rasa dengan rupa yang cantik-cantik.

Bahkan kue-kue kering “biasa” seperti nastar, putri salju, brownies, dan kastengel bisa dibuat dari bahan singkong dan dinamakan nastar singkong belimbing, putri salju green tea singkong, brownies singkong keju, brownies singkong green tea, kastangel singkong, serta aneka rupa makanan lain.

Dan semuanya berbahan dasar 100 persen singkong. “Kalau di tempat lain, memang sudah ada yang mengelola brownies dan blondies dari singkong.

Tapi itu pun kadarnya 80 persen singkong dan sisanya tetap menggunakan tepung terigu. Kalau di sini semua terbuat dari singkong,” kata Sri yang pernah mendapatkan penghargaan Pangan Award dari Unit Kerja Mandiri (UKM) Departemen Perdagangan RI kategori diversifikasi pangan pada November 2009. Untuk menjadi kue-kue yang lezat dan menarik, singkong harus diolah terlebih dulu menjadi tepung singkong.

Tepung singkong dibuat dari singkong yang telah direbus dan dijemur, kemudian ditumbuk hingga menjadi tepung.

Barulah kemudian tepung singkong ini digunakan sebagai bahan dasar kue-kue, layaknya penggunaan tepung terigu pada pembuatan kue-kue umumnya.

“Bukan tepung tapioka loh, tapi tepung singkong,” tandas Sri yang juga pernah meraih penghargaan dari salah satu majalah perempuan sebagai fi - nalis Wanita Wirausaha 2009 ini.

Tepung tapioka berasal dari saripati singkong yang telah diparut dan diambil airnya untuk kemudian diendapkan.

Endapan inilah yang kemudian menjadi tepung tapioka. Penggunaan tepung tapioka atau yang sering disebut sebagai tepung sagu, atau sebagian masyarakat mengenalnya sebagai tepung kanji ini, sudah cukup dikenal dalam dunia pembuatan kue. Tapi penggunaan tepung singkong untuk pembuatan aneka kue masih belum familiar.

Tepung singkong pun masih cukup sulit didapat, sebab jenis tepung ini masih jarang dijual di pasaran.

Berbeda dengan tepung tapioka atau bahkan tepung terigu yang sudah biasa ditemui di pasar. “Untuk bahan baku membuat kue ini, saya memperoleh tepung singkongnya dari Trenggalek, Jawa Timur, dan Lampung.

Itu pun pesannya harus dari jauh-jauh hari. Telepon sana, telepon sini, kadang tidak ada juga,” kata Sri. Tepung singkong bisa didapat dengan harga 5.000 rupiah per kilogram (kg).

Dan ongkos kirimnya bisa mencapai 50.000 rupiah untuk satu karung tepung singkong ukuran 25 kg. Ditambahkan Pasta Menurut Sri, pembuatan kue dan brownies dengan menggunakan tepung singkong pada dasarnya sama dengan pembuatan brownies maupun aneka cookies dengan menggunakan tepung terigu.

Hanya saja, dalam prosesnya sedikit membutuhkan ketelatenan dan sedikit merepotkan. Misalnya harus memisahkan putih dan kuning telur ketika proses pengadukan berlangsung.

“Kalau brownies ataupun cake tepung terigu, ketika kita mengocok putih telur dan kuning telurnya bisa disatukan, kemudian dimasukkan tepung terigunya.

Tapi kalau brownies atau cake dengan tepung singkong, kuning telur dan putih telurnya harus di-mix tersendiri.

Setelah itu, baru dicampur dengan adonan kuning telur dan tepung terigunya.” Proses terpisah ini sengaja dilakukan mengingat kandungan air dalam tepung singkong lebih tinggi atau lebih banyak dibandingkan dengan kandungan air pada tepung terigu.

Jika tepung singkong dan putih telur tidak dipisahkan, maka akan menyebabkan kue menjadi tidak mekar saat dipanggang atau dikukus. “Kuenya jadi mimpes, tidak mekar.

Kalau dicampurkan terpisah dan pada menit-menit akhir sebelum dipanggang, maka hasilnya akan bagus. Mekar seperti kue dengan bahan baku tepung terigu,” jelasnya.

Lalu bagaimana rasa kue-kue dari tepung singkong buatan Sri? Sepintas mungkin tidak ditemukan bedanya dengan yang dibuat dari tepung terigu, sebab tampilan fisiknya memang serupa.

Namun jika mencicipi rasanya, beda antara bahan baku tepung terigu dan tepung singkong ini akan cukup terasa.

Nastar singkong belimbing terasa lebih kering. “Serat tepung singkong memang lebih kasar dibandingkan dengan tepung terigu. Jadi akan terasa berbeda di lidah,” kata Sri menyakinkan.

Membuat kue kering dengan tepung singkong, lanjut Sri, tidak sama dengan kue kering dari tepung terigu, terutama dalam hal komposisi bahan baku yang digunakan.

Jika pada kue-kue kering umumnya hanya menggunakan kuning telur saja, maka tidak dengan kue-kue kering dengan bahan dasar tepung singkong. Dalam setiap adonan kue-kue kering dengan tepung singkong harus disertakan putih telur dengan perbandingan minimal separonya.

“Misalnya kalau satu adonan membutuhkan tiga butir kuning telur, maka putih telurnya setidaknya adalah satu putih telur.

Lumayan juga kan bisa memanfaatkan putih telur daripada dibuang,” tambahnya. Sifat tepung singkong yang tinggi kandungan air ini membuat kue yang dihasilkan akan sangat mempur atau mudah sekali hancur ketika sudah matang. “Jadi dengan putih telur ini sifat kue lebih elastis.

Putih telur ini bisa menggantikan peran gulatin pada tepung terigu,” katanya. Agar kue-kue kering dari tepung singkong bisa renyah, Sri menambahkan tepung maizena dalam setiap adonan.

Sedangkan untuk mengurangi aroma langu dari tepung singkong, biasanya Sri menambahkan pasta aneka rasa. Harga kue-kue berbahan dasar singkong buatan Sri ini cukup terjangkau.

Jenis nastar, kastangel, dan kue-kue kering lainnya harganya antara 25.000 rupiah hingga 55.000 rupiah per toples. Untuk brownies maupun blondies berharga mulai dari 36.000 rupiah.
nik/L-4/Jumat, 22 Januari 2010.


Sumber : http://www.koran-jakarta.com/berita-detail.php?id=43157

Legitnya Usaha Brownies Singkong





Legitnya Usaha Brownies Singkong


Para penikmat kue tentu sudah mengenal baik brownies. Itu, lo, cake coklat yang bantat atau kenyal, berasa manis dan legit. Makanan ini sempat menjadi santapan terkenal lantaran ada beragam model pengolahannya. Mulai dari brownies oven sampai kukus.

Biasanya, brownies memakai bahan baku tepung terigu. Tapi saat harga terigu terus naik seperti sekarang, mulai ada usaha menggunakan tepung singkong sebagai bahan baku utama. Bentuk dan rasanya memang sekilas tak berbeda. Sebagian orang bilang, rasanya beda tipis alias mirip banget dengan brownies terigu. Tapi, biaya pembuatannya jauh lebih irit.

Salah satu yang pengusaha yang telah mencoba peruntungan brownies singkong adalah Sri Murtiningsih. Sejak Januari lalu, ia membikin brownies berbahan singkong. Sebelumnya, Sri telah melakukan uji coba hampir selama tiga tahun sebelum mendapatkan formula yang pas. "Dulu, saya coba bikin kue itu hanya sekedar untuk pameran," ungkap pemilik Hanah Cake yang berlokasi di Pancoran Mas, Depok kepada KONTAN, Minggu (25/5), lalu.

Boleh dibilang, walau belum lama menggarap brownies dari tepung singkong, namun permintaan pasar sungguh menjanjikan. Buktinya, Sri sering kewalahan memenuhi permintaan. "Mungkin karena bahannya dari singkong, orang jadi penasaran dan ingin mencoba rasanya," ungkapnya.

Sri membuat brownies dalam dua bentuk. Pertama, brownies mungil yang ia lego seharga Rp 1.300 per potong. Kedua, brownies dalam boks atau kotak seharga Rp 17.000 hingga Rp 68.000 per kotak. "Yang beli boks kebanyakan kalangan menengah ke atas," ungkapnya.

Setiap hari, Sri mampu menjual brownies singkongnya ke sejumlah toko di kawasan Depok dan Jakarta. Ada yang dijual dengan sistem "titip" lewat pendagang atau warung. "Saya biasa titip ke warung-warung dan koperasi mahasiswa UI," imbuhnya. Jenis brownies yang ia titipkan biasanya berupa potongan-potongan kecil.

Selain itu, Sri juga melayani pesanan. Datangnya memang tak menentu. Bisa saja, bulan-bulan tertentu ramai sekali. Tapi, kadang, satu bulan penuh tak ada pesanan masuk.

Ingin membangun merek

Sri sebenarnya bukan pemain baru di bisnis kue. Sejak 1993, ia sudah bergelut di bisnis ini. Awalnya, ia hanya bermodal Rp 25.000 untuk membuat cake, brownies dan cookies. "Pertama kali itu, saya jual sendiri ke stasiun Depok," kenangnya.

Selanjutnya, usaha Sri terus berkembang, walau pernah jatuh bangun juga. "Kadang omset penjualan kecil, sering juga hasilnya lumayan besar. Tapi, menjelang kenaikan bahan bakar (BBM) kemarin, omset turun lagi," ungkapnya sembari mengelak menyebutkan nominal omset usaha saat ini.

Dalam sebulan, Sri bertutur bisa membuat 500 kue jenis brownies, cake, dan cookies. Itu masih ditambah pesanan dengan rata-rata satu hingga tiga pesanan per bulan. "Kalau pesanan tidak bisa dirata-rata jumlahnya," jelasnya. Dari usaha ini, setiap bulan, Sri bisa mengantungi keuntungan bersih lebih dari Rp 2 juta.

Jika brownies sudah menggunakan tepung singkong, untuk membuat Cake dan Cookies, Sri masih menggunakan terigu sebagai bahan baku. "Perlahan, saya akan terus uji coba agar bisa diganti dengan tepung singkong semuanya," ungkap wanita berjilbab ini.

Bagi Sri, langkah memakai bahan baku tepung singkong ini antara lain untuk menekan ongkos produksi yang semakin mahal. "Tepung singkong di pasaran Rp 5.000 per kilogram, sedangkan terigu minimal Rp 8.000 per kilogram," jelasnya.

Sri melihat peluang dengan menggarap serius brownies dari singkong ini. Namun saat ini, ia masih ingin memantapkan formula sekaligus memperkenalkan secara luas produk ini ke masyarakat. "Saya promosi dengan ikut bazar, pameran dan menyebarkan brosur. Semoga itu bisa meningkatkan pesanan," ungkap Sri.

Sri bilang, ingin membangun merek sebagai pioner pembuat kue berbahan tepung singkong. Ia yakin, bisnis ini masih cerah lantaran belum banyak pesaing. Sayang, Sri masih terbentur dengan permodalan.

Sri bilang, sebagai pelaku usaha kecil, ia harus pintar-pintar menyiasati keadaan. Ia berharap ada pihak yang peduli mengangkat usaha yang cukup prospektif ini. "Semoga pemerintah peduli. Syukur-syukur ada yang mau menanamkan investasi dengan menjadi bapak angkat usaha ini," harapnya. (PURWADI)

----------------
Hanah Cake
Jl Citayam Raya, Gg. Bhakti RT 002 RW 02, No. 57 Pancoran Mas, Depok, Jawa Barat
Telepon (021) 30522110
Sumber : http://nasional.kompas.com/read/2008/05/28/09081154/Legitnya.Usaha..Brownies.Singkong