...Singkong jadi Andalan Indonesia untuk Pangan, Pakan dan Energi...

Kamis, 05 April 2012

Risalah dan Karakteristik Singkong Gajah





Penemuan Singkong Gajah dimulai dari tahun 2006 dan mulai dikembangkan pada tahun 2008, koleksi berbagai jenis Singkong Unggul yang dimiliki oleh BEC diteliti kembali oleh Prof. Ristono khususnya hasil inventarisasi dari berat umbi basah yang dihasilkan pada satu batang cabutan pohonnya di atas 20 kg diperoleh data berat pada satu jenis varietas yang “lokal” yaitu, 21 kg, 22 kg, 25 kg, 32 kg, 42 kg dan tertinggi adalah 46 kg. Pada akhirnya dilakukan kesepakatan untuk memberikan nama varietas tersebut.

Berbagai usulan muncul dengan hasil akhir ada tiga nama yang perlu dipertimbangkan yaitu: Genjah, Lembusana, dan Gajah. Atas pertimbangan yang mendalam untuk berbagai kepentingan maka diputuskan nama varietas Singkong Unggul yang dikembangkan oleh BEC tersebut adalah SINGKONG GAJAH, dimana keunggulan varietas ini terletak pada:

(1) berat umbi,

(2) kemudahan penanaman,

(3) bisa langsung dikonsumsi sebagai bahan makanan pengganti beras dengan rasa ketan, dan

(4) umur panen 6 – 10 bulan.


Karakteristik Singkong Gajah

Sebagai Lembaga Swadaya Masyarakat BEC (Borneo Environmental Community) telah terdaftar di Badan Kesatuan Bangsa & Politik Provinsi Kalimantan Timur dengan No.220/562/orm/2009, Tanggal 08 April 2009 yang berorientasi pada Lingkungan Hidup.

BEC telah menemukan jenis Singkong di Kalimantan Timur yang diberi nama “SINGKONG GAJAH” sebagai varietas ”Asli” Kalimantan Timur yang ditemukan oleh Prof. Dr. Ristono, MS (Ketua Umum BEC) dan dipublikasikan melalui Koran Lokal dan Internet sejak tanggal 08 juli 2008. Sosialisasi dan pengembangan dimulai tanggal 01 Juni 2009 dengan acara “Panen Raya dan Bazar Singkong Gajah” dilaksanakan di Desa Bukit Pariaman (Separi 1) Kec. Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur.


Dalam rangka penelitian dan pengkajian yang telah dilakukan LSM BEC dengan berbagai Media Tanam, Input Teknologi, dan Jenis Tanah yang berbeda menghasilkan variasi umbi basah cabutan per stek pada umur 9 bulan dengan berat 7 kg – 42 kg.

Dari berbagai sampel cabutan Singkong Gajah dengan umur antara 4 – 9 bulan memiliki rasa yang enak dan gurih dengan tekstur empuk bahkan ada nuansa rasa ketan. Berbagai jenis olahan Singkong basah menjadi makanan diperoleh kualitas yang bagus antara lain berupa Keripik, Gethuk, Tape dan Bahan sayur pengganti kentang, dan lainnya yang memiliki potensi Ekonomi yang cukup tinggi.

Umbi umur 9 – 12 bulan mempunyai kadar pati yang tinggi sehingga berpotensial sebagai bahan Chip Gaplek, Tepung Tapioka, Tepung Mocal (Pengganti Gandum) dan Bioethanol. Dengan demikian Singkong Gajah akan memiliki potensi strategis secara Nasional sebagai Bahan Pangan dan Bahan Bakar Nabati (Energi).

Secara fisik Singkong Gajah memiliki sistem perakaran yang kuat sehingga memungkinkan bisa menyerap (menahan) air dan sangat berguna bagi keperluan irigasi dan pengendalian banjir. Sedangkan pertumbuhan batang, cabang dan daun mencapai tinggi 5 meter. Tumbuhan ini mempunyai potensi tinggi dalam penyerapan CO2, dengan demikian keberadaan Singkong Gajah besar peranannya bagi pengendalian ekosistem.

Kandungan Sianida yang relatif rendah pada Singkong Gajah terlihat pada daun yang bisa langsung dimakan oleh ternak (ayam, kambing, dan sapi) tanpa menimbulkan pengaruh negatif pada ternak tersebut. Hal itu juga terlihat pada umbinya, karakteristik semacam ini mempunyai nilai lebih baik dibandingkan dengan varietas singkong lainnya walaupun mempunyai produktivitas yang tinggi namun tidak dapat langsung dimakan oleh ternak maupun manusia, disebabkan tingkat Kandungan Sianida yang tinggi membuat jenis singkong variates yang lain beracun dan apabila dalam pengolahannya tidak menggunakan metode yang benar akan membahayakan mahluk hidup dan merusak lingkungan.

Potensi kandungan Tepung pada Singkong Gajah akan mencapai titik maksimum pada umur tanaman antara 9 – 12 bulan, dengan demikian apabila Industri Tepung Tapioka mengunakan bahan baku dari Singkong Gajah sebaiknya pada umur panen tersebut.

Sehubungan dengan kondisi iklim di Kalimantan Timur yang sulit dibedakan antara musim penghujan dan kemarau, maka penanaman Singkong Gajah maupun panen di Kalimantan Timur sangat diuntungkan Dengan demikian penyediaan bahan baku untuk industri Tepung Tapioka dapat dilakukan setiap saat dengan rotasi tahunan tanpa memandang hari maupun bulan dengan luasan areal yang besar tersedia.

Perlu diwaspadai adanya siklus musim kering sepuluh tahunan sekali di mana bahaya kekurangan air bisa muncul, maka di dalam metode penanaman Singkong Gajah dalam skala luas harus ada penyediaan tandon air yang difasilitasi dengan mesin pompa air. Pemanfaatan air dan mesin ini sangat diperlukan khususnya pada waktu panen umbi.

Varietas Singkong Gajah ini sudah memperoleh dukungan dari INSTANSI PEMERINTAH yang terkait dan GUBERNUR Kalimantan Timur maupun BANK KALTIM.

Sumber : http://singkonggajah.wordpress.com/

Pabrik Bioetanol Berbahan Baku Singkong Diresmikan

TENGGARONG - Pabrik bioetanol berbahan baku singkong yang merupakan program corporate social responsibility (CSR) PT Indomining, diresmikan operasionalnya oleh Wakil Bupati Kutai Kartanegara (Kukar) HM Ghufron Yusuf, Selasa (6/3) sore. Pabrik yang mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan Fuel Grade Ethanol (FGE) 99,5 persen itu terletak di Kelurahan Pendingin, Kecamatan Sangasanga.

\Turut hadir pada peresmian itu, Kepala Bappeda Kukar Totok Heru Subroto, Kepala Disprindagkop Asmidi, Staf Ahli Bupati Otoy Usman dan Khairil Anwar, Kabag Humas dan Protokol Dafip Haryanto, dan unsur Muspika Sangasanga serta instansi terkait.

Sementara dari PT Indomining, dihadiri Chairman Toba Group Jenderal (Purn) Luhut B Pandjaitan, mantan Menkoperekonomian era Presiden Megawati Soekarnoputri, Rizal Ramli, mantan Menlu RI Hasan Wirayuda, mantan KSAD Jenderal S Bagiyo, dan jajaran direksi PT Indomining. Untuk diketahui, PT Indomining merupakan salah satu anak perusahaan Toba Group.

Ghufron Yusuf menyebut Pemkab Kukar menyambut baik pabrik biofuel ini, sebab dapat memberikan kesempatan kepada masyarakat untuk mengembangkan potensi lahan yang ada.
Pemkab juga berharap, kehadiran pabrik bioetanol berbahan baku singkong tersebut dapat meningkatkan ekonomi masyarakat dan sebagai penyedia lapangan pekerjaan bagi warga, khususnya di Sangasanga.
“Kami meminta perusahaan agar memercayakan penanaman singkong sebagai bahan baku pabrik bioetanol ini kepada masyarakat dan bukan justru perusahaan sendiri yang mengelola pabrik hingga melakukan penanaman. Jadi, kami berharap dengan adanya pabrik ini taraf hidup masyarakat akan lebih meningkat,” katanya.

Selanjutnya, Ghufron menyampaikan terima kasih atas partisipasi investor membuka pabrik bioetanol berbahan baku singkong itu, sebab hingga saat ini masih banyak lahan yang bisa dikelola untuk penanaman singkong.

Sementara Chairman Toba Group Luhut B Pandjaitan mengatakan, pembangunan pabrik bioetanol itu merupakan satu salah program CSR PT Indomining, sebuah perusahaan tambang batu bara yang memiliki areal konsesi di Sangasanga.

“Jadi kami akan memberdayakan masyarakat melalui kelompok-kelompok tani dengan cara memberikan penyuluhan kepada mereka dalam proses penanaman singkong kemudian hasilnya akan dibeli oleh pabrik bioetanol ini,” katanya.

Hasil pengolahan singkong menjadi etanol itu, juga akan dipasarkan kepada masyarakat sekitar.
Hingga saat ini, pabrik bioetanol yang dikelola oleh Koperasi Serba Usaha (KSU) Indo Bio Energi milik PT Indomining baru mampu menghasilkan 500 liter etanol per hari dengan kebutuhan 3,5 ton singkong. “Kami berharap pabrik ini akan menghasilkan hingga 5.000 liter etanol per hari, sehingga dapat memenuhi kebutuhan bahan bakar masyarakat di Kabupaten Kukar,” sebutnya.


Singkong yang diolah tersebut, lanjut dia, menghasilkan FGE 99,5 persen. “Jika 90 persen premium dicampur 10 persen etanol, maka akan menghasilkan Pertamax Plus sehingga kami berharap produk ini akan menjadi energi alternatif pengganti BBM. Apalagi bahan bakunya sangat mudah ditemukan dan mudah tumbuh pada daerah kering,” terang Pandjaitan.

Sumber : http://singkonggajah.wordpress.com/

Selasa, 15 November 2011

Kuliner dari Singkong : TIWUL INSTAN

Trenggalek Bebas Pestisida dan Pupuk Kimia

TIWUL INSTAN YANG CEPAT SAJI

Tiwul adalah makanan tradisional yang dikonsumsi oleh masyarakat pedesaan sejak dahulu yang bahannya dari singkong, thelo , pohong, ketela pohon (manihot utilisima). Dengan perkembangan pola fikir dan tehnologi maka, sekarang dibuat dalam bentuk instan, supaya dalam penyajian lebih cepat dan praktis.

Tiwul instan yang diproduksi oleh masyarakat pedesaan saat ini mulai menggeliat dan mempunyai prospek pasar yang menggebirakan. Walaupun scala usahanya rumah tangga tapi sangat berpengaruh terhadap perekonomian masyarakat pedesaan. Proses pembuatan yang sederhana dengan hasil produknya sudah layak untuk masuk pasar menegah keatas. Gambar adalah ibu Asmungi salah satu dari ratusan produsen pembuat tiwul instan. Dari 100 kg ketela pohon dapat menghasil tiwul instan 28 kg, dengan sekali daur selama 5 hari.







Sumber : http://jadi-tersesat.blogspot.com/2010/12/tiwul-instan-yang-diproduksi-oleh.html

Kuliner dari Singkong : Tiwul Ayu

Tiwul Ayu

Tiwul Ayu

Pernah dengar makanan bernama tiwul atau thiwul kan? Itu lho makanan tradisional Jawa atau jajanan pasar yang terbuat dari tepung gaplek, gula merah dan kelapa parut.

Nah, bagi yang belum tau tepung gaplek, saya beri tahu ya…tepung gaplek adalah tepung yang terbuat dari singkong kering, berwarna coklat dan berbeda dengan tepung kanji/tapioka yang berwarna putih itu. Bagaimana proses membuatnya, saya pun tak tahu, namun tepung gaplek ini dapat kita jumpai umumnya di desa-desa. Pada jaman sekarang ini, lebih mudah mencari tepung terigu di toko-toko dibandingkan dengan mencari tepung gaplek. Entah kenapa, popularitasnya kok semakin menurun padahal kalau sudah dibuat jajanan thiwul, rasanya mmmm uenak tenan lho.

Beberapa waktu lalu saya membongkar catatan resep almarhum ibu yang ditulis tangan, eh tiba-tiba mata ini terantuk pada resep tiwul ayu. Jadi saja teringat masa-masa ketika ibu dulu suka membuatkan kami sekeluarga kue-kue termasuk tiwul ayu ini (duh…setiap kali teringat beliau hati ini tambah rindu….). Bedanya dengan tiwul tradisional, tiwul ayu ini dibuat dari tepung terigu. Nah lho! Aneh kan? Tapi rasanya, tidak jauh berbeda dengan tiwul aslinya. Penasaran? Yuk, teman-teman ikuti step by step pembuatannya yang mudah sekali.

Bahan:

300 g tepung terigu
3 butir telur
250 g gula merah, disisir halus
3 sdm gula pasir
1 sdm soda kue
1 sdm baking powder, dicampur dalam tepung terigu
Kelapa parut, dibubuhi sedikit garam kemudian dikukus sebentar

Membuatnya:

1. Panaskan panci pengukus
2. Kocok telur bersama gula merah, gula pasir dan soda kue sampai mengental dan mengembang (dengan mikser).
3. Masukkan tepung terigu sedikit demi sedikit.
4. Tuang adonan dalam Loyang yang telah diolesi minyak goreng, kemudian dialasi kertas roti, diolesi lagi dengan minyak goreng dan ditaburi tepung terigu.
5. Kukus selama kira-kira 45 menit. Lalu angkat.
6. Setelah dingin, baru dipotong-potong.
7. Sajikan bersama taburan kelapa parut.

Sumber : http://sarianing.wordpress.com/2011/10/17/tiwul-ayu/

Thiwul Heboh Instant

Tersedia Pilihan Rasa :
Gula Merah Rp. 7.500,-
Instant (Original) Rp. 7.000,-
Pandan Rp. 7.500,-
Tawar Rp. 7.500,-

Sumber : http://kerupukikan-ainie.blogspot.com/2011/04/blog-post_3350.html

KULINER DARI SINGKONG

MAKANAN OLAHAN TRADISIONAL DARI SINGKONG

SINGKONG dikenal juga dengan nama Cassava, Ubi Kayu, Ketela Pohon, Telo Puhung atau Telo Jendal adalah pohon tahunan tropika dan subtropika dari keluarga Euphorbiaceae. Umbinya dikenal luas sebagai makanan pokok penghasil karbohidrat dan daunnya sebagai sayuran. Bahkan kulit ubinya dapat dibuat kripik kulit singkong yang gurih dan renyah.
Jenis singkong Manihot esculenta pertama kali dikenal di Amerika Selatan kemudian dikembangkan pada masa pra-sejarah di Brasil dan Paraguay. Bentuk-bentuk modern dari spesies yang telah dibudidayakan dapat ditemukan bertumbuh liar di Brasil selatan. Meskipun spesies Manihot yang liar ada banyak, semua varitas M. esculenta dapat dibudidayakan.

Produksi singkong dunia diperkirakan mencapai 184 juta ton pada tahun 2002. Sebagian besar produksi dihasilkan di Afrika 99,1 juta ton dan 33,2 juta ton di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia.

Singkong ditanam secara komersial di wilayah Indonesia (waktu itu Hindia Belanda) pada sekitar tahun 1810[1], setelah sebelumnya diperkenalkan orang Portugis pada abad ke-16 ke Nusantara dari Brasil.

Umbi akar singkong banyak mengandung glukosa dan dapat dimakan mentah. Rasanya sedikit manis, ada pula yang pahit tergantung pada kandungan racun glukosida yang dapat membentuk asam sianida. Umbi yang rasanya manis menghasilkan paling sedikit 20 mg HCN per kilogram umbi akar yang masih segar, dan 50 kali lebih banyak pada umbi yang rasanya pahit. Pada jenis singkong yang manis, proses pemasakan sangat diperlukan untuk menurunkan kadar racunnya. Dari umbi ini dapat pula dibuat tepung tapioka.

Kadar gizi

Kandungan gizi singkong per 100 gram meliputi:
•Kalori 146 kal
•Air 62,50 gram
•Fosfor 40,00 gram
•Karbohidrat 34,00 gram
•Kalsium 33,00 miligram
•Vitamin C 0,00 miligram
•Protein 1,20 gram
•Besi 0,70 miligram
•Lemak 0,30 gram
•Vitamin B1 0,01 miligram[2]

KULINER DARI SINGKONG
Dimasak dengan berbagai cara, singkong banyak digunakan pada berbagai maam masakan.
1.Direbus untuk menggantikan kentang, dan pelengkap masakan.
2.Digoreng dengan diberi bumbu sehingga gurih dan renyah.
3.Dibuat kripik singkong terkenal dengan nama Criping, dapat dibuat dengan rasa gurih maupun pedas dengan sambal baladonya.
4.Tepung singkong dapat digunakan untuk mengganti tepung gandum, baik untuk pengidap alergi.
5.Kulit singkong dapat dibuat kripik kulit singkong yang gurih.

Selain diolah dengan metode di atas singkong dapat diolah sebagai salah satu pilihan kuliner yang lezat dan tentu saja asli Indonesia. Singkong tersebut dapat dapat diolah menjadi:

1.Tiwul/Thiwul
Makanan pokok pengganti nasi beras yang dibuat dari ketela pohon atau singkong. Penduduk Pegunungan Kidul (Pacitan, Wonogiri, Gunung Kidul) dikenal mengonsumsi jenis makanan ini sehari-hari.
Tiwul dibuat dari tepung gaplek. Gaplek yang akan dibuat tiwul harus gaplek yang berwarna putih, kalau banyak warna hitamnya akibat pengeringan yang tidak sempurna lebih baik dibuat gatot saja.
Gatot sebagai makanan pokok, kandungan kalorinya lebih rendah daripada beras namun cukup memenuhi sebagai bahan makanan pengganti beras. Tiwul dipercaya mencegah penyakit maag, perut keroncongan, dan lain sebagainya. Tiwul pernah digunakan untuk makanan pokok sebagian penduduk Indonesia pada masa penjajahan Jepang

2.Gatot
Dibuat dari gaplek yang berwarna putih dan hitam. Untuk mendapatkan gatot yang berkualitas dengan warna hitam yang merupakan warna khas gatot dilakukan dengan cara gaplek dihujan-hujankan. Setelah dicuci bersih gaplek dipotong-potong kecil kemudian dikukus. Setelah matang gaplek sudah menjadi gatot dan siap disajikan bersama parutan kelapa dan gula jawa.





3.Cenil
Dibuat dari campuran parutan singkong, agar-agar bubuk, air, gula pasir, santan dan garam. Aduk rata menggunakan tangan kemudian dikukus. Cenil disajikan dengan menaburkan parutan kelapa di atasnya.








4.Growol
Terbuat dari singkong yang diiris kecil-kecil kemudian direndam selama tiga hari dengan penggantian air setiap hari agar tidak “kecut” (asam). Kemudian ditiriskan dan dihancurkan sebelum akhirnya dikukus.








5.Gethuk

Kukus singkong dalam dandang yang telah dipanaskan hingga matang, angkat. Keluarkan dari dandang, haluskan bisa pakai mesin giling, campurkan gula pasir dan garam, aduk rata.Taruh di loyang yang dialas daun pisang, tipiskan hingga 1 1/2 cm, dinginkan, potong (2 x 2) cm. Campur kelapa muda dengan garam hingga rata, tambahkan daum pandan, kukus hingga matang. Sajikan gethuk singkong dengan kelapa muda dan gula pasir. Untuk mendapatkan aneka rasa dapat dicampur dengan bubuk coklat atau strawberry.

Bagi Anda yang tertarik untuk mencicipi kuliner ini, Anda dapat berkunjung ke kota Yogyakarta dan sekitarnya. Untuk Tiwul dan Gatot Anda dapat menemukan di pasar-pasar Wonosari Kabupaten Gunung Kidul, sedangkan Growol dapat diperoleh di pasar Wates Kabupaten Kulon Progo. Untuk Cenil dapat Anda peroleh di pasar Sewon Bantul atau pasar Balangan Sleman. Sedangkan untuk Gethuknya Anda dapat memperoleh di pasar Muntilan atau Magelang.

Jika Anda tidak punya waktu yang cukup untuk menikmati kuliner yang istimewa tersebut, Anda dapat mencoba mencari di pasar Balangan atau pasar Godean yang terletak di Kabupaten Sleman. Anda dapat menikmati kuliner asli Jawa tersebut sambil menikmati panorama alam pedesaan yang asri. Perlu diketahui Growol, Cenil, Tiwul dan Gatot hanya dapat Anda peroleh di pasar-pasar tradisional di Yogyakartam sedangkan untuk Gethuk dapat diperoleh di kota Yogyakarta maupun kota-kota di Jawa Tengah. Namun jika Anda ingin menikmati Gethuk yang paling istimewa hanya akan Anda dapatkan di kota Muntilan dan Magelang.

Dari Stasiun Tugu dapat ditempuh kurang lebih 30 menit ke arah barat kota Yogyakarta. Rutenya adalah Stasiun Tugu, Pingit, Jati Kencana, Godean, Seyegan dan Ngaran, Balangan.

Sumber : http://flora-faunaindonesia.blogspot.com/2011/06/singkong.html

Selasa, 12 Juli 2011

MENINGKATKAN NILAI GIZI ONGGOK (AMPAS SINGKONG)


Onggok merupakan hasil samping dari pembuatan tapioka ubikayu. Karena kandungan proteinnya rendah (kurang dari 5%), limbah tersebut belum dimanfaatkan orang. Namun dengan teknik fermentasi, kandungan proteinnya dapat ditingkatkan. Sehingga onggokyang terfermentasi, dapat digunakan sebagai bahan baku pakan unggas. Ketersediaan onggok terus meningkat sejalan dengan meningkatnya produksi tapioka. Hal ini diindikasikan dengan semakin meluasnya areal penanaman dan produksi ubikayu.

Produksi ubikayu mengalami peningkatan dari 13,3 juta ton pada tahun 1990 menjadi 19,4 juta ton pada tahun 1995. Setiap ton ubikayu dapat dihasilkan 250 kg tepung tapioka dan 114 kg onggok. Dan onggok ini merupakan limbah pertanian yang sering menimbulkan masalah lingkungan, karena berpotensi sebagai polutan di daerah sekitar pabrik. Penggunaan onggok untuk bahan baku penyusunan pakan ternak masih sangat terbatas, terutama untuk hewan monogastrik. Hal ini disebabkan kandungan proteinnya yang rendah disertai dengan kandungan serat kasarnya yang tinggi (lebih dari 35%).

Dengan proses bioteknologi dengan teknik fermentasi dapat meningkatkan mutu gizi dari bahan-bahan yang bermutu rendah. Misalnya, produk fermentasi dari umbi ubikayu (Cassapro/ Cassava protein tinggi), memiliki kandungan protein 18-24%, lebih tinggi dari bahan asalnya ubikayu, yang hanya mencapai 3%. Demikian juga, onggok terfermentasi juga memiliki kandungan protein tinggi yakni 18% dan dapat digunakan sebagai bahan baku ransum ayam ras pedaging.

Onggok Terfermentasi
Salah satu teknologi altematif untuk dapat memanfaatkan onggok sebagai bahan baku pakan ternak adalah dengan cara mengubahnya menjadi produk yang berkualitas, yaitu melalui proses fermentasi. Proses tersebut dapat dilakukan secara semi padat dengan menggunakan kapang Aspergillus niger sebagai inokulum, ditambah campuran urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen anorganik.

Menurut Supriyati (2003), sebelum difermentasi onggok tersebut harus dikeringkan terlebih dahulu, sampai kadar airnya maksimal 20% dan selanjutnya digiling. Untuk setiap 10 kg bahan baku pakan dibutuhkan 80 gram kapang Aspergillus niger dan 584,4 gram campuran mineral anorganik. Sedang untuk preparasinya adalah sebagai berikut: 10 kg onggok kering giling dimasukkan ke dalam baskom besar (ukuran 50 kg). Selanjutnya ditambah 584,4 gram campuran mineral dan diaduk sampai rata. Kemudian ditambah air hangat sebanyak delapan liter, diaduk rata dan dibiarkan selama beberapa menit. Setelah agak dingin ditambahkan 80 gram Aspergillus niger dan diaduk kembali. Setelah rata dipindahkan ke dalam baki plastik dan ditutup. Fermentasi berlangsung selama empat hari. Setelah terbentuk miselium yang terlihat seperti fermentasi tempe, maka onggok terfermentasi dipotong- potong, diremas-remas dan dikeringkan dalam oven pada suhu 60 derajat C dan selanjutnya digiling.

Setelah dianalisa kandungan nutriennya, antara onggok dan onggok terfermentasi berbeda. Yaitu, kandungan protein kasar dan protein sejati, masing-masing meningkat dari 2,2 menjadi 25,6 dan 18,4%. Sedang karbohidratnya menurun dari 51,8 menjadi 36,2%. Hal ini terjadi karena selama fermentasi, kapang Aspergillus niger menggunakan zat gizi (terutama karbohidrat) untuk pertumbuhannya. Dan kandungan protein meningkat dari 2,2 menjadi 18,4%, dengan menggunakan urea dan ammonium sulfat sebagai sumber nitrogen.

Aman untuk Unggas
Penggunaan onggok fermentasi sampai dengan 10% dalam formulasi pakan ayam pedaging masih aman dan tidak menimbulkan dampak negatif. Artinya aman untuk dikonsumsi oleh ayam. Pada percobaan di Balai Penelitian Ternak (Balitnak), digunakan 144 ekor ayam pedaging umur tiga hari, dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Masing-masing perlakuan (P1, P2 dan P3) diberi formula pakan dengan tiga tingkatan onggok terfermentasi yang berbeda. Yaitu, P1: 0% (kontrol), P2: 5,0% dan P3: 10,0% (onggok terfermentasi) dalam pakan. Namun kandungan protein kasar dari ransum tersebut telah diperhitungkan dan untuk tiap-tiap formula adalah sebagai berikut: P1: 20,7%, P2: 21,04% dan P3: 21,05%. Percobaan dilakukan selama empat minggu.

Dari uji biologis tersebut menunjukkan bahwa, kinerja ayam pada semua kelompok,selama percobaan cukup baik dan tidak dijumpai adanya kematian ayam. Sedang pertambahan bobot badan dari kelompok ayam yang memperoleh pakan onggok terfermentasi 10% (P3) sebesar 960 gram. Dan ini tidak berbeda nyata dengan kelompok ayam P2 (5% onggok terfermentasi). Pada kedua pertakuan (P2 dan P3), juga tidak berbeda nyata dengan kelompok kontrol (0% onggok terfermentasi), yang mempunyai bobot hidup sebesar 988 gram. Konsumsi pakan juga tidak berbeda antar perlakuan dan selama perlakuan konsumsi pada kel. P1, P2 dan P3, masing-masing adalah 1.882, 1.912 dan 1.869 gram. Sedang untuk nilai konversi pakan adalah 1,90 untuk semua perlakuan.

Dengan demikian, maka onggok terfermentasi sampai dengan 10% dapat digunakan dalam formulasi pakan ayam pedaging. Dan terhadap persentase bobot karkas, bobot hati dan rempela juga tidak ada perbedaan yang nyata. Namun, pemberian lebih tinggi dari 10%, perlu pengkajian lebih lanjut. Sebab pada penelitian sebelumnya pernah dilaporkan bahwa, penggunaan cassapro ubikayu, lebih dari 10% dapat menimbulkan dampak negatif, baik terhadap pertambahan bobot badan maupun konversi pakan.

Dari uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa, mutu onggok dapat ditingkatkan sebagai bahan baku pakan sumber protein, yang pemanfaatannya dapat dikembangkan pada tingkat peternak. Bila ditinjau dari aspek kandungan proteinnya, maka kemungkinan ke depan, penggunaan onggok terfermentasi untuk pakan unggas memiliki prospek yang baik dan diharapkan dapat menggantikan jagung/dedak atau polard.

Sumber : http://fungisidaorganik.blogspot.com/2011/07/meningkatkan-nilai-gizi-onggok-ampas.html?spref=fb