...Singkong jadi Andalan Indonesia untuk Pangan, Pakan dan Energi...

Rabu, 01 Juni 2011

SINGKONG BISA LEBIH HEBAT DARI KELAPA SAWIT

UNTUK MENSEJAHTERAKAN RAKYAT : SINGKONG BISA LEBIH HEBAT DARI KELAPA SAWIT

Oleh : Ir. H. Dian Kusumanto

Penghasilan masyarakat dari Kebun Plasma Kelapa Sawit di Kecamatan Sebuku baru mencapai Rp 450.000 per bulan untuk kebun plasma seluas 2 (dua) hektar. Artinya jika dihitung per hektar penghasilan petani plasma hanya sebesar Rp 225.000 per bulan. Sungguh angka yang sangat kecil bagi penduduk yang dulunya biasa menerima uang besar dari bisnis ilegal logging.

Apakah itu sudah adil ? Rasanya itu sangat tidak adil. Idealnya rata-rata produksi Tandan Buah Sawit (TBS) itu mencapai 24 ton per tahun dari setiap hektar kebun yang sudah menghasilkan, berarti rata-rata panen sebesar 2 ton TBS per bulan. Jika harga TBS Rp 1.200 per kg, maka akan diperoleh hasil pembayaran dari pabrik sebesar Rp 2.400.000 per bulan dari setiap hektar lahan. Atau Rp 4.800.000 per bulan untuk 2 hektar kebun Kelapa Sawit. Kenyataannya perolehan petani plasma kita baru kurang dari 10 % dari kondisi ideal tersebut.

Namun angka tersebut masih jauh dari kenyataan, karena ternyata produktifitas kebun Kelapa Sawit di Nunukan ini baru mencapai sekitar 50% target produktifitas ideal yaitu baru mencapai sekitar 12 ton TBS per hektar per tahun. Angka tersebut pun penulis peroleh dari angka produktifitas laporan dari salah satu perusahaan inti yang ada di Kabupaten Nunukan. Maka bisa jadi produktifitas kebun plasma masyarakat bisa kurang dari 12 ton TBS per tahun per hektar.

Dari sisi harga TBS pembelian Pabrik Kelapa Sawit juga masih rendah. Rata-rata harga pembelian di tingkat pabrik baru sekitar Rp 900 per kg TBS, sedangkan harga di tingkat kebun setelah dipanen berkisar antara Rp 400 – 600 per kg TBS tergantung jaraknya kebun dari pabrik. Hal tersebut masih belum terhitung ongkos buruh untuk panen dan pengumpulan TBS ke pinggir jalan. Maka bisa jadi yang diperoleh petani hanya sekitar Rp 300 – 500 per kg TBS.

Ini adalah kenyataan yang sungguh pahit di tengah gencarnya semangat menanam kebun dengan komoditi Kelapa Sawit. Sebab dengan penerimaan yang sangat minim tersebut, petani tentu tidak sanggup untuk melakukan pemeliharaan yang baik dan standar. Apalagi harga pupuk juga masih sangat mahal dan ketersediaannya juga belum terjamin. Sarana dan prasarana transportasi juga masih sangat minim, sehingga ongkos angkut pupuk dan barang dirasa masih sangat mahal. Kondisi seperti ini dialami hampir semua petani Kelapa Sawit di Kabupaten Nunukan.

Petani seolah-olah tidak berdaya menghadapi kenyataan ini, mereka hanya pasrah menerima keadaan yang tidak adil ini. Selama ini Pemerintah Kabupaten Nunukan juga sangat tidak peka dan seolah tidak paham dengan kenyataan yang sangat pahit tersebut. Oleh karena itu harusnya Pemerintah jangan berbangga dulu dengan banyaknya lahan yang dibuka untuk kebun Kelapa Sawit. Jangan juga berbangga kalau di daerahnya banyak Pabrik pengolah CPO, sehingga bisa meningkatkan PAD setiap tahunnya. Janganlah bangga dulu sebelum masalah-masalah petani bisa diatasi dan pendapatan dari Kelapa Sawit cukup mensejahterakan.

Padahal para petani kita ini sudah cukup bersabar menunggu selama sekitar 5 (lima) tahun untuk memperoleh hasil yang ternyata tidak sepantasnya tersebut. Namun cukuplah untuk juga disyukuri sebab bisa membantu untuk biaya anak-anak sekolah di kampung atau tambahan beli beras dan keperluan harian lainnya. Masyarakat plasma Kelapa Sawit termasuk sangat sabar, karena selama ini mereka merasa tidak mengeluarkan biaya-biaya untuk pembangunan kebun sawitnya, itu saja.

Kalau tahu hanya seperti itu, kenapa kita tidak memilih komoditi lain seperti Singkong. Benarkah Singkong bisa lebih menguntungkan bagi masyarakat dari pada Kelapa Sawit? Atau adakah komoditi lainnya yang bisa lebih mensejahterakan dari pada Kelapa Sawit? Pertanyaan-pertanyaan seperti itu sungguh sangat langka kita dengarkan dari para petani plasma Kelapa Sawit ini. Kenapa? Ya, karena selama ini gembar-gembor dari para Pemimpinnya sangat meyakinkan.

Lalu apakah betul Singkong bisa lebih hebat dari Kelapa Sawit? Bagaimana perhitungannya sehingga bisa dikatakan seperti itu?

Singkong itu tanaman semusim yang umur panennya berkisar antara 6 bulan sampai dengan 10 bulan, artinya tidak perlu terlalu lama untuk menunggu hasilnya. Selain itu Singkong sudah sangat familier atau tidak asing bagi semua petani di Kabupaten Nunukan, baik dalam hal cara budidayanya maupun cara mengelola paska panennya. Bahkan sebagian besar masyarakat di daerah pedalaman mengkonsumsi Singkong sebagai makanan pokoknya. Jadi secara budaya dan adat istiadat sungguh tidak asing lagi bagi mereka.

Jika Pemerintah bisa menarik pihak Swasta untuk berinvestasi mendirikan pabrik pengolahan Singkong menjadi produk-produk hilir yang lebih bernilai, sama seperti adanya Investor Pabrik Kelapa Sawit (PKS), maka saya yakin masyarakat akan jauh lebih antusias. Sebab inilah prasyarat pertama dan utama jika kita ingin mengembangkan Singkong, yaitu adanya pabrik yang akan membeli seluruh hasil produksi dari para petani. Sebenarnya seperti itu juga yang dilakukan Pemerintah untuk mengembangkan Kelapa Sawit, maka untuk mengembangkan Singkong pun prasyarat utama juga harus dilakukan.

Oke lah, kalau misalnya prasyarat itu sudah ada, artinya Pemerintah atau siapa saja bisa menarik investor untuk mendirikan Pabrik yang menampung dan mengolah Singkong, sehingga seluruh hasil produksi Singkong para petani bisa dibeli dengan harga yang wajar. Lalu bagaimana bisa dikatakan hasil pendapatan petani bisa lebih hebat? Terus, betulkah Singkong bisa membuat masyarakat lebih sejahtera?

Petani selama ini menganggap bahwa Singkong bukan sebagai komoditi ekonomi, karena Singkong belum punya pasar yang besar. Petani hanya menanamnya dalam skala lahan yang sempit dan sekedar bisa mencukupi kebutuhan untuk keluarganya saja. Belum ada yang bisa membeli dalam jumlah yang banyak dan kontinyu. Keadaan inilah yang akan berubah jika nanti ada Pabrik yang bisa membeli dalam jumlah besar dan secara kontinyu, sama seperti PKS untuk hasil panen Kelapa Sawit petani.

Mari, sekarang kita menghitung proyeksi pendapatan petani singkong dengan skala usaha Singkong untuk luas lahan 1 (satu) hektar. Petani biasa menanam Singkong dengan jarak tanam yang sangat rapat, yaitu dengan jarak 50 cm x 50 cm, ada juga yang sekitar 60 cm x 60 cm, 80 cm x 80 cm, atau sampai jarak tanam sekitar 1 meter x 1 meter. Kalau dihitung populasi pohon per hektar bisa mencapai antara 10.000 pohon, 15.000 pohon, 30.000 pohon atau sampai 40,000 pohon. Atau anggaplah rata-rata yang ditanam petani itu 20,000 pohon dalam setiap hektar.

Jika rata-rata hasil produksi setiap pohon rata-rata mencapai 3 kg saja maka hasil panen per hektar lahan akan mencapai 60 ton ubi. Padahal para petani kita tidak terlalu sulit untuk bisa mencapai produksi per pohonnya rata-rata seberat 5 kg. Hanya dengan sedikit pemeliharaan dan pupuk yang cukup angka 5 kg itu bisa diperoleh. Artinya dalam se hektar petani akan memperoleh hasil sekitar 100 ton dalam setiap musimnya yang selama antara 6 bulan sampai 10 bulan. Atau bisa dikatakan bahwa para petani tidak terlalu sulit untuk bisa memanen Singkong sebanyak 10 ton per bulannya dari setiap hektar lahan.

Seandainya pihak Pabrik yang ada nanti bisa menerima dengan harga di tingkat kebun hanya seharga Rp 300 per kg saja, maka petani yang menanam 1 hektar Singkong tadi akan menerima hasil kebun Rp 3 juta per bulan. Kalau punya kebun 2 hektar makan akan menerima hasil Rp 6 juta per bulan. Apa lagi kalau harga seperti di Jawa atau Sumatera yang bisa mencapai Rp 600 di tingkat Pabrik, maka petani bisa memperoleh Rp 6 juta per bulan per hektar. Nah, kalau mereka rata-rata punya 2 hektar lahan Singkong, maka mereka bisa memperoleh hasil pendapatan sampai Rp 12 juta per bulan. Ini sungguh hasil yang sangat besar jika dibandingkan hasil dari Kelapa Sawit.

Apakah hal ini sulit dilakukan? Saya rasa, kalau membangun Pabrik Kelapa Sawit saja kita bisa, tentu juga demikianlah kita pasti bisa membangun Pabrik Pengolahan Singkong di Kabupaten Nunukan ini.

Kira-kira apa lagi yang kita ragukan dengan hitungan di atas? Bagaimana menurut Anda?

Rabu, 11 Mei 2011

Dosen Unpad Kembangkan Beras Singkong

Marleen Sunyoto mengembangkan beras singkong (rasi) sebagai alternatif bahan pangan.

(Foto: dok. Unpad)


Pemerintah mengimbau agar masyarakat Indonesia tidak ketergantungan pada beras sebagai bahan makanan utama. Menanggapi imbauan tersebut, salah seorang dosen Universitas Padjadjaran (unpad) pun mengembangkan beras singkong atau rasi sebagai alternatif bahan makanan.


Marleen Sunyoto, pengajar pada Fakultas Teknologi Industri Pertanian Unpad (FTIP) Unpad menjadikan rasi sebagai tema utama penelitian disertasinya. Ide ini pertama kali muncul pada 2007 lalu ketika dia menjadi juri dalam Ethnic Food Festival yang dihelat oleh Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disindag) Jawa Barat.


Saat itu, banyak peserta mengolah singkong sebagai bahan pangan utama. Salah satu peserta dari Cireundeu, Cimahi, menyajikan ‘nasi goreng singkong’. Di sana, masyarakat telah terbiasa mengonsumsi rasi selama ratusan tahun. Mereka membuatnya dengan memeras parutan singkong hingga menjadi tepung, kemudian ampasnya dijemur. Setelah kering, ampas singkong yang berbentuk seperti butiran beras ini lalu ditanak seperti cara memasak nasi.


Marleen mengakui, rasi ala Cireundeu ini memang enak. Namun, menurutnya, bentuk rasi itu kurang menyerupai beras. Teksturnya lebih seperti ketan dengan warna agak kekuningan. “Saya carikan metoda bagaimana nanti kalau ditanak warnanya seperti nasi, bentuk butirannya seperti nasi, kekenyalannnya seperti nasi. Inilah yang menjadi tantangan saya. ‘Rasi’ yang saya buat pun bukan hanya perasan singkong, tapi dicampur dengan bahan-bahan lain sehingga lebih bergizi,” kata Marleen seperti dikutip dari situs Unpad, Kamis (28/4/2011).


Marleen bertekad, ingin memberikan alternatif makanan pokok di Indonesia sehingga tidak selalu tergantung pada beras padi. Untuk rasi, dia tidak akan murni hanya mengolah singkong menjadi seperti butiran beras padi. Nantinya, singkong akan melalui tahapan fortifikasi atau penambahan zat-zat gizi yang penting untuk tubuh.


Ibu satu anak ini pun bekerja keras untuk merealisasikan idenya. Dia masih mengembangkan formulasi dan metodologi rasi yang tepat. “Sehingga, rasi tersebut tidak hanya memiliki bentuk dan rasa seperti beras padi, tapi juga memiliki kandungan gizi tinggi dengan harga yang murah,” ujarnya mengimbuhkan.

Wanita berkacamata ini tak sendirian, dia dibantu berbagai pihak dan berkonsultasi dengan beberapa ahli fortifikasi. Para mahasiswa bimbingannya bahkan ikut mengolah rasi menjadi aneka penganan seperti egg roll, tape, tiwul, dan cream soup. Marleen berniat membawa kreasi para mahasiswanya tersebut ke aneka seminar untuk menyosialisasikan bahwa dengan singkong (cassava) pun orang bisa hidup sehat.

Kepala Pusat Inkubator Bisnis Unpad itu berharap, rasi fotofikasi yang sedang dikembangkannya dapat menjadi alternatif pengganti beras miskin (Raskin). Pembagian Raskin untuk masyarakat berekonomi lemah atau di daerah rawan pangan seringkali terbentur masalah jeleknya kualitas beras yang dibagikan seperti berbau apek, berjamur, bahkan berkutu.

“Dengan mengonsumsi ‘rasi’, masyarakat dapat hidup sehat tanpa harus mengeluarkan biaya tinggi untuk konsumsi panganan pokok” ujar Marleen berharap.(rfa)

Sumber : http://www.indonesiaberprestasi.web.id/?p=6396

Membuat Beras Singkong


Beras-Singkong Semi-instan

http://www.unisosdem.org/images/spacer.gif

OYEK adalah nama yang sangat populer. Tidak hanya bagi masyarakat miskin di pedesaan, tetapi juga bagi kalangan intelektual yang bergelut dengan penelitian sosial di pedesaan. Bahkan, nama ini tidak aneh bagi semua kalangan pejabat, dari pusat sampai daerah. Nama ini juga sangat familiar bagi anggota DPR karena mereka selalu memikirkan rakyat miskin.

Oyek adalah nama tradisional. Nama ilmiahnya adalah beras-singkong atau cassava rice, yang dapat digunakan sebagai beras simulasi pengganti bahan makanan pokok yang keseluruhan bahan bakunya berasal dari singkong. Beras-singkong sangat populer di daerah Jawa Tengah dan Jawa Timur, juga pada sebagian masyarakat Sumatera Selatan dan Lampung.

Jenis makanan ini sebetulnya juga ditemukan di Filipina. Mereka menamakan "ladang" atau cassava rice. Ladang, sama halnya dengan Indonesia, juga digunakan sebagai pendamping makanan pokok dari terigu, beras atau jagung. Hanya saja digunakan setiap saat apabila mereka menginginkan, jadi bukan sebagai bahan makanan saat paceklik. Oleh sebab itu, untuk selanjutnya sebutan produk "oyek" adalah "beras-singkong", sehingga konotasi oyek sebagai makanan inferior sedikit teratasi.

Menjadikan singkong sebagai makanan favorit bukan sebagai makanan yang inferior bukanlah pekerjaan yang mudah, walau sifat fisiko-kimia dan fungsional dari pati singkong cukup baik. Banyak bahan makanan dengan bahan baku singkong yang sudah beredar di pasaran dan digemari. Misalnya, jenis makanan pacar cina. Walaupun menggunakan bahan baku tepung singkong, pacar cina sangat digemari oleh berbagai lapisan masyarakat. Selain digunakan dalam es campur, juga sering digunakan dalam pembuatan puding dan sejenis. Makanan jenis lainnya adalah soun, yaitu mi bening dibuat dari tepung singkong (tapioka). Soun dapat digunakan dalam menu soto atau capcai yang banyak penggemarnya. Oleh sebab itu, sangat memungkinkan kalau singkong dengan produk beras-singkong semi-instan dapat diterima oleh masyarakat luas.

Teknologi semi-instan

Teknologi pembuatan beras-singkong secara tradisional hampir sama untuk semua wilayah, baik dari Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, Sumatera Selatan atau dari Filipina. Singkong direndam beberapa hari, kemudian dicuci sampai bersih untuk menghilangkan bau dan kotoran, selanjutnya dibuat tepung dan dikeringkan. Untuk membuat butiran seperti beras tepung dipercikkan air, dibuat butiran kecil, kemudian dikukus dan dikeringkan. Pengeringan biasanya dilakukan di panas Matahari. Beras-singkong ini dapat disimpan cukup lama apabila pengeringan cukup sempurna atau kadar airnya cukup rendah.

Alternatif cara lain, singkong yang telah direndam setelah dicuci bersih langsung dihancurkan dan dibuat butiran seperti beras tanpa terlebih dahulu dibuat tepung. Butiran yang terbentuk dikukus dan dikeringkan. Masalah yang sering timbul dalam pembuatan beras-singkong adalah pengeringan yang tidak sempurna, sehingga sering produknya ditumbuhi jamur dan bau yang kurang sedap. Bau yang kurang sedap juga timbul karena perendaman yang terlalu lama dan pencucian yang kurang sempurna. Keadaan inilah yang diduga sebagai penyebab beras-singkong yang dibuat secara tradisional dengan nama oyek menjadi inferior.

Teknologi yang digunakan dalam pembuatan beras-singkong semi-instan adalah teknologi pembuatan beras instan atau nasi instan dengan sedikit modifikasi. Ada beberapa tahap yang harus dilakukan dalam pembuatan beras-singkong semi-instan, yaitu perendaman, pengukusan, dan pengeringan. Perendaman dan pemasakan ditujukan agar terjadi gelatinasi dan pengembangan granula pati. Pati yang mengalami gelatinasi setelah dikeringkan mulekulnya dapat lebih mudah menyerap air kembali dalam jumlah besar karena perendaman dengan larutan soda kue atau dengan larutan perendaman meta fosfat menjadikan tekstur produk semi-instan lebih poros. Struktur pati yang poros setelah pengeringan memudahkan air untuk meresap ke dalam beras-singkong semi-instan pada waktu rehidrasi. Sifat inilah yang digunakan dalam pembuatan pangan instan. Diharapkan dengan menggunakan teknologi semi-instan ini tidak menjadikan beras-singkong inferior lagi.

Dalam proses pembuatan beras-singkong semi-instan, tahap pertama adalah pembersihan kulit dan pemotongan secara melintang singkong segar dengan ukuran panjang 2 cm. Rendam dalam air perendam pertama (1) dengan menggunakan larutan soda kue 2 persen (NaHCO3) atau dapat juga menggunakan campuran dua pelarut, yaitu perendam ke dua (2) dengan larutan perendam soda kue 2 persen (NaHCO3) dan larutan meta fosfat 0,1 persen (Na24) masing-masing selama enam jam. Cuci bersih sampai bahan kimia perendam habis, dan selanjutnya potong dengan ukuran 0,2 cm x 2 cm (seukuran beras). Tahap selanjutnya kukus selama lima menit, tiriskan dan dikeringkan dengan pengering buatan seperti oven. Setelah kering simpan dalam stoples atau kantong plastik yang digunakan untuk makanan dan beras-singkong semi-instan siap digunakan.

Teknologi terpadu dan sederhana ini akan lebih mudah dan cepat diserap oleh masyarakat dalam perbaikan mutu produk makanan tradisional. Selain sederhana, teknologi pembuatan beras-singkong semi-instan lebih higienis dan lebih cepat serta mutu produk lebih baik.

Teknologi proses beras-singkong semi-instan ini menggunakan dua cara perendaman, yaitu perendaman dengan menggunakan larutan soda kue dan perendaman campuran larutan soda kue dengan larutan meta fosfat. Penggunaan larutan perendam soda kue lebih mudah dan praktis karena soda kue sudah sangat biasa digunakan di rumah tangga sehingga penerimaan dapat lebih baik. Porositas beras-singkong semi-instan sangat baik dan juga waktu pemasakan atau pengukusan cukup cepat, yaitu selama lima menit.

Adapun penggunaan larutan perendam yang kedua, yaitu campuran pelarut soda kue dengan larutan metafosfat, menghasilkan tekstur sedikit lebih baik dan porosita yang juga sedikit lebih baik. Waktu pemasakan juga lebih pendek.

Penyajian

Penyajian beras-singkong semi-instan dalam bentuk yang sudah matang ditujukan sebagai makanan pokok dan sebagai makanan selingan. Untuk makanan selingan lebih diutamakan rasa yang manis, sedangkan untuk makanan pokok tidak.

Untuk membuat beras-singkong siap untuk dikonsumsi perlu dilakukan pengukusan kembali setelah direndam beberapa menit. Keuntungan dilakukan pengukusan ini adalah dapat menambahkan beberapa rasa atau aroma sehingga lebih bervariasi dan beragam.

Sebelum dikukus sebaiknya beras-singkong semi-instan direndam dalam air beberapa menit, baru dilakukan pemasakan atau pengukusan. Sewaktu mengukus dapat ditambahkan daun pandan atau aroma pandan, vanili dan aroma lainnya sesuai dengan selera sehingga menambah cita rasa produk. Baik untuk digunakan sebagai makanan pokok atau sebagai makanan selingan karena aroma pandan dan vanili sangat familiar bagi masyarakat dan dapat diterima.

Sebagai makanan selingan, setelah dimasak selagi panas-panas tambahkan parutan kelapa dan dalam penyajian tambahkan lagi gula merah yang dipotong kecil. Dapat juga dimakan dengan pisang goreng, tempe goreng atau sejenis gorengan lain yang disukai. Bahkan, dapat juga di tambahkan selai nanas, selai srikaya, selai kacang, dan selai sejenis sehingga dapat meningkatkan cita rasa dan penerimaan.

Sebagai makanan pokok, beras-singkong semi-instan dapat digunakan sebagai simulasi pengganti beras atau nasi. Sewaktu mengukus dapat ditambahkan satu sendok makan santan kelapa kental sehingga nasi-singkong yang terbentuk lebih gurih. Nasi-singkong semi-instan ini dapat dimakan bersama lauk yang biasa digunakan sebagai makanan pendamping nasi. Cara mengonsumsi sama seperti mengonsumsi beras-nasi seperti dilakukan sehari-hari.

Beras-singkong semi-instan dapat juga dibuat seperti bubur ayam. Caranya, dimasak dengan air seperti memasak bubur ayam tidak dikukus. Potongan kentang kecil dapat ditambahkan untuk meningkatkan cita rasa. Selain kentang, jenis bahan makanan lain yang dapat ditambahkan adalah jagung manis atau ubi jalar. Bubur ayam dari beras-singkong semi-instan dikonsumsi sama dengan cara mengonsumsi bubur ayam, yaitu ditambahkan ayam goreng yang telah disuwir-suwir, saus kecap manis-kecap asin, dan sambal.

Selain bersih, higienis, mutu nasi yang dihasilkan juga lebih baik dan yang tidak kalah penting adalah waktu memasak yang lebih pendek, yaitu kurang dari lima menit. Berbeda dengan beras-singkong yang diproduksi secara tradisional atau singkong rebus waktu untuk mengukus lebih lama, yaitu 20-30 menit.

Kandungan gizi

Bahan bakunya dapat menggunakan singkong putih dan singkong kuning dari jenis singkong manis yang mempunyai kandungan HCN (sianida) rendah. Sianida atau racun pada singkong dapat hilang setelah penyucian, perendaman, pemasakan, pengeringan selama proses produksi beras-singkong semi-instan.

Kandungan zat gizi antara singkong sebagai bahan baku dan beras-singkong semi-instan relatif sama. Sebagian besar zat gizi yang terdapat dalam singkong adalah karbohidrat atau pati. Hampir 95 persen adalah pati sebagai sumber kalori. Kandungan protein dan lemak beras-singkong semi-instan sangat rendah, yaitu kadar protein 1,24 persen dan lemak 0,38 persen. Untuk meningkatkan cita rasa dan kandungan zat gizi dalam mengonsumsi dapat ditambahkan parutan kelapa, margarin, keju, selai kacang, selai nanas, selai srikaya atau gula kelapa. Sebagai simulasi beras-nasi, sewaktu mengonsumsi dapat menggunakan lauk ikan bakar, ikan goreng, rendang, dendeng, gulai ayam, opor, semur serta berbagai jenis lauk lainnya.

Kandungan mineral beras-singkong semi-instan relatif sama dengan bahan baku singkong, yaitu kaya akan mineral kalsium dan fosfor. Kadar kalsium mencapai 33 mg per 100 gram dan kadar fosfor 40 mg per 100 gram. Vitaminnya pun hampir sama dengan jenis umbian lain yang relatif rendah.

Melihat potensi dari tanaman singkong yang dapat tumbuh di tanah yang kurang subur sekalipun dan dengan perawatan yang tidak terlalu rumit, serta produksi per hektar yang dapat ditingkatkan, pengembangan beras-singkong semi-instan adalah salah satu alternatif teknologi proses untuk menghasilkan produk berbahan baku singkong dengan mutu lebih baik. Oleh sebab itu, beras-singkong semi-instan dapat meningkatkan penerimaan singkong pada masyarakat luas dari semua kalangan serta meningkatkan harga jual singkong sehingga dapat pula meningkatkan pendapatan petani.

Faisal Anwar Staf Laboratorium Manajemen Pangan dan Staf pengajar Jurusan GMSK, Fakultas Pertanian IPB

Sumber : http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0402/02/humaniora/832665.htm

Minggu, 17 April 2011

Tepung Mocaf, Makanan Bagus untuk Anak Autis

Tepung Mocaf, Makanan Bagus untuk Anak Autis


Metrotvnews.com, Jakarta: Tepung Mocaf sangat cocok dikonsumsi untuk makanan bagi anak yang penderita autis. Adapun tepung tersebut dikenal sebagai tepung singkong.

"Karena tepung Mocaf ini telah dicampur sejenis enzim yang sangat baik bagi kesehatan dan pencernaan di tubuh manusia, terutama bagi penderita autis," kata salah seorang pegawai Badan Pelaksana Penyuluh Ketahanan Pangan Kabupaten Serdang Bedagai Surya Darma di Pekan Raya Sumatra Utara di Medan, Ahad (10/4).

Mocaf sendiri merupakan singkatan dari Modified Cassava Flour yang berarti tepung singkong yang dimodifikasi. Tepung Mocaf memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi, dan kemudahan melarut yang lebih baik.

Karena itu, para petani ubi kayu dan pengusaha di Kabupaten Serdang Badagai saat ini sudah banyak membuat pengolahan tepung Mocaf, karena dinilai memiliki proses yang cukup bagus.

"Tepung Mocaf yang dipamerkan di anjungan Kabupaten Serdang Bedagai pada PRSU ini banyak diminati dan dijadikan sebagai behan pembuatan kue, selain tepung terigu," kata Darma.

Ibu-ibu di Kota Medan dan daerah lainnya yang memiliki anak penderita autis banyak yang membeli tepung Mocaf di anjungan pameran. Harga tepung Mocaf juga lebih murah Rp5.300 per kilogram bila dibandingkan dengan tepung terigu Rp6.300 per kilogram.(Ant/RAS)

Sumber : http://www.metrotvnews.com/read/news/2011/04/11/48222/Tepung-Mocaf-Makanan-Bagus-untuk-Anak-Autis

PROFIL HULU HILIR INDUSTRI BERBASIS UBI KAYU

PROFIL HULU HILIR INDUSTRI BERBASIS UBI KAYU

Ubi kayu merupakan tanaman umbi-umbian yang dapat tumbuh di dataran rendah dengan curah hujan yang tidak terlalu tinggi. Biasanya tanaman ini dipanen setelah berumur sekitar 10 bulan. Produksi ubi kayu Indonesia menempati urutan kelima dunia. Ubi kayu digunakan sebagai sumber pati yang merupakan bahan baku berbagai industri.

Produk turunan ubi kayu yang diperdagangkan di pasar dunia antara lain adalah gaplek (manioc), tepung singkong (cassava starch), tapioka, dan beberapa produk kimia seperti alkohol, gula cair (maltosa, glukosa, fruktosa), sorbitol, siklodekstrin, asam sitrat, serta bahan pembuatan edible coating dan biodegradable plastics. Negara tujuan ekspor utama kelompok produk ini antara lain RRC, Uni Eropa, Taiwan, dan Korea Selatan.

Sumber : http://www.bi.go.id/web/id/DIBI/Info_Eksportir/Profil_komoditi/Profil_Komoditi/ubi_kayu.htm


Senin, 14 Maret 2011

Peluang Pasar Tepung Mocaf 600 ribu ton per tahun dari Indofood


Peluang Pasar Tepung Mocaf 600 ribu ton per tahun dari Indofood

Oleh : Ir. Dian Kusumanto


Awal bulan Maret 2011 kemarin saya mengikuti pertemuan tentang Ketahanan Pangan di Hotel Le Dian Serang Banten. Diantara pembicara yang tampil adalah Bapak Kepala Badan Ketahanan Pangan Kementrian Pertanian, yaitu Bapak Prof. Dr. Ir. Achmad Suryana MSc. Yang sangat menarik dari pembicaraan beliau adalah informasi bahwa sebenarnya PT. Indofood, produsen Indomie, sudah lama menggunakan tepung Mocaf untuk produksi Indomienya, namun karena pertimbangan persepsi masyarakat konsumen, maka waktu itu belum dibuka. Kinilah saatnya membuka informasi itu, bahwa sebenarnya Indomie yang kita konsumsi itu sebagian tepung bahannya adalah tepung Mocaf.

Tepung Mocaf produksi Koperasi Loh Jinawi Trenggalek Jawa Timur


Hal ini jelas karena trend kenaikan harga pangan di luar negeri, khususnya Gandum, terus terjadi. Gandum adalah bahan dasar tepung terigu. Di dunia ini ada trend yang hamper sama, yaitu lahan-lahan pertanian pangan tergusur alias terkonversi menjadi lahan non pangan bahkan non pertanian. Setiap Negara sekarang terus mengalami kenaikan kebutuhan bahan pangan sedangkan ketersediaannya bukan semakin meningkat, sehingga langkah yang diambil rata-rata Negara di dunia ini adalah semakin membatasi ekspor bahan pangannya. Hal inilah yang menyebabkan trend kenaikan terus menerus harga pangan dunia.

Suasana Industri Kecil Tepung Mocaf di Jawa Timur


Kenaikan harga terigu akhirnya member harapan baru kepada komoditi penggantinya atau komoditi substitusinya seperti tepung mocaf dan tepung-tepung bahan ubi-ubian lainnya. Maka muncullah upaya-upaya kreatif untuk mengatasi trend yang kalau tidak diatasi akan mematikan usaha bidang pangan dengan bahan dasar tepun g terigu. Industri pangan berbahan tepung terigu ini sangat luas, mulai dari aneka jenis roti, aneka jenis mie, aneka kue-kue basah dan kering, dll. Industri-industri ini menggunakan tepung terigu dengan berbagai komposisi.

Proses perendaman irisan singkong agar terjadi proses fermentasi yang menggunakan BAL (bakteri asam laktat)

Kehadiran tepung Mocaf sebagai alternative substitusi tepung terigu memberi harapan baru bagi para pelaku industry pangan berbahan tepung terigu. Berbagai percobaan akhirnya dilakukan untuk mengetahui sampai seberapa banyak peran substitusi tepung mocaf ini dalam pembuatan aneka pangan yang semula berbahan tepung terigu. Tentu saja belum semua peran tepung terigu bisa digantikan sepenuhnya. Dari beberapa hasil ujicoba penggantian tepung terigu dengan tepung mocaf dapat disampaikan daftar prosentasi substitusinya pada aneka produk pangan berikut.

Angka besaran import tepung terigu Indonesia sudah mencapai angka 6 juta ton tiap tahun. Oleh karena itulah maka sudah waktunya kita menghargai produk kita sendiri, yaitu dengan jalan mensubstitusinya atau menggantinya dengan tepung mocaf. Kepala Badan juga menginformasikan bahwa PT. Indofood memberi sinyal untuk menerima tepung mocaf dari para industry tepung mocaf sebesar 50.000 ton per bulan, atau sebesar 600.000 ton dalam setahun, atau 10 % dari volume import tepung terigu.

Untuk memproduksi 600.000 ton tepung mocaf per tahun, berarti diperlukan bahan baku ubikayu segar sebanyak 2,4 juta ton per tahun yang dipanen dari kebun singkong dengan luas sekitar 60.000 hektar . Hitungan tadi menggunakan asumsi rendemen ubi menjadi tepung 25 % dengan produktifitas lahan 40 ton/ha. Namun kalau kita menggunakan angka asumsi yang lebih optimis, misalnya rendemen 30% sedang produktifitas mencapai 60 ton/ha/12 bulan, berarti hanya perlu lahan sekitar 30.000 hektar, atau separuh dari asumsi yang pertama tadi.

Bibit stek ubikayu Adira yang siap angkut ke lahan petani di Nunukan Kalimantan Timur


Ayo ambil peluang ini segera! Mari berlomba-lomba untuk mencapainya!

Bagaimana menurut Anda??

Selasa, 25 Januari 2011

Ny. Sadjilah, KTNA dari DKI Jakarta - Mengolah Tepung "MOCAF" sebagai Pengganti Terigu

Ny. Sadjilah, KTNA dari DKI Jakarta - Mengolah Tepung "MOCAF" sebagai Pengganti Terigu

Dalam upaya pelaksanaan diversifikasi pangan agar tidak tergantung kepada beras dan tepung terigu, masih banyak komoditi lainnya sebagai substitusi. Di antaranya ubi kayu atau singkong, ubi jalar, talas, suweg, ganyong, gadung, gembili, jagung dan lain-lain.


Untuk setiap 100 gram umbi-umbian memiliki kandungan 75% BBD (bagian yang dapat dimakan), 146 kal energi, 1,2 gram protein dan 0,39 gram lemak. Oleh karena itu mengingat mempunyai nilai gizi yang cukup tinggi, umbi-umbian sebagai pangan tambahan atau substitusi beras dan terigu dapat disajikan kepada masyarakat dalam bentuk olahan yang menarik dan enak rasanya, serta murah harganya.

Pengganti Terigu
Bahan baku terigu sebagian besar tergantung dari luar negeri, sehingga dikhawatirkan akan terjadi ketergantungan. Upaya mengantisipasi pengganti terigu telah dilaksanakan oleh INKOPTAN (Induk Koperasi Tani) dengan memproduksi MOCAF (Modified Cassava Flour) yang kini sudah mulai diperkenalkan kepada masyarakat.

Tepung ubi kayu yang dikenal dengan nama MOCAF tersebut adalah produk turunan dari ubi kayu yang menggunakan prinsip modifikasi sel ubi kayu secara fermentasi. Tepung MOCAF memiliki karakter yang berbeda dengan tepung ubi kayu biasa dan tapioka, terutama dalam hal derajat viskositas, kemampuan gelasi, daya rehidrasi dan kemudahan melarut.

Dengan melihat sepintas saja secara fisual nampak perbedaan yang nyata dalam hal warna maupun aroma. Tepung MOCAF berwarna lebih putih dan berbau netral (tidak berbau apek khas ubi kayu), sehingga dapat menggantikan posisi terigu. “Ternyata harga MOCAF Rp. 5.500/kg, sedangkan terigu Rp. 7.000/kg sehingga lebih murah”, kata Sadjilah, KTNA dari DKI Jakarta, seorang petani pengolahan hasil pertanian yang memproduksi kue-kue dari bahan baku MOCAF.

Beralih ke MOCAF

Menurut Sadjilah yang asli Yogyakarta dan dikaruniai 3 orang putri, usaha pembuatan kue dengan bahan baku MOCAF telah dimulai sejak 1 tahun. Semula kue yang diproduksi mempergunakan tepung terigu namun karena harga bahan bakunya mahal beralih ke MOCAF dengan membeli dari INKOPTAN. Ternyata dengan mempergunakan bahan baku dari dalam negeri di samping harganya lebih murah dapat membantu petani singkong dari berbagai daerah yang diolah INKOPTAN.

Sumber : http://www.sinartani.com/kontaktani/ny.-sadjilah-ktna-dki-jakarta-mengolah-tepung-quotmocafquot-sebagai-pengganti-terigu-1228189015.htm